August 9, 2010

Definisi menulis buat saya

-->Menulis buat saya mencurahkan apa saja yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan baik tentang diri sendiri atau tentang kehidupan yang ada di sekitar kita. Tidak harus formal, karena buat saya menulis tidak bedasarkan apa yang wajib atau harus, melainkan apa yang kita suka.

Simple. Saya suka menulis hal-hal yang tidak begitu penting tapi saya suka dan itu membuat saya senang karena apa yang kita rasakan bisa tertumpah di tulisan kita sendiri, apalagi jika tulisan itu dapat menginspirasi orang lain atau bisa disukai oleh orang lain juga. Menulis bisa dilakukan siapapun, dimanapun, dan kapanpun.

Berawal ketika saya dulu pernah membaca buku-buku yang menginspirasi saya untuk lebih banyak menulis. Penulis buku seperti Donny Dhirgantoro, Dewi Lestari, dan bahkan Raditya Dika yang membuat saya jadi terinspirasi dari mulai menulis tulisan sedikit berbau sastra, serius, hingga yang konyol-konyol tentang kehidupan pribadi saya sendiri di blog saya. Saya jatuh cinta pada dunia menulis.

Menulis membuat saya lega dan bisa menumpahkan semuanya, apa pendapat saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan dan semuanya yang ada di dalam pikiran dan hati saya. Terkadang sangat sulit untuk memulainya, harus mulai darimana tulisan ini atau bagaimana membuat pembaca terhibur atau terkesan dengan tulisan kita sendiri. Semula saya mengkhawatirkannya, tapi semakin sering menulis, saya semakin melupakan itu semua.

Yah, inilah dunia menulis. Idealis dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Saya tidak lagi mempedulikan bagaimana jika tulisan saya dikomentari yang jelek-jelek oleh orang lain, bagaimana jika tulisan saya tidak akan dibaca oleh orang lain, tidak ada ratingnya, sepi pembaca di blog saya. Lupakan itu semua, karena itu bukan lagi menjadi daya tarik untuk menulis, tapi ketertarikan dalam menulis ketika kita bisa merasakan ‘feel’ tulisan kita sendiri. Nikmatnya menulis selagi kita merasakan satu demi satu kata yang kita tuliskan hingga menjadi satu kalimat, satu paragraf hingga satu tulisan yang nanti ketika kita baca ulang kita akan berkata dalam hati, “Wow, gue bisa juga menulis”.

Itulah yang saya rasakan ketika menulis, Buat saya, menulis harus dengan ‘apa adanya’ bukan dengan ‘ada apanya’ kita harus menulis. Keduanya berbeda, ‘apa adanya’ bisa menghasilkan tulisan yang ‘real’ tulisan kita sendiri dan kita juga bisa merasakan maknanya lebih dalam, tapi kalau dengan ‘ada apa’nya terkesan lebih memaksa dengan yang kita tulis. So, anyone can write!

Tentang menerima dan membiarkan pergi

Saya bingung harus mulai dari mana. Karena inspirasi tulisan ini ketika saya membaca cerpen dalam suatu blog berjudul Garis Akhir yang ditulis oleh Kezia Gabriella Agusta. Mungkin juga karena saya lagi ingin 'serius' menulis atau mungkin juga karena saya sedang 'menghadapi' sendiri kenyataannya.

Tentang menerima dan membiarkan pergi.

Mengutip dari tulisan Garis Akhir, "Somehow, I forget one thing. When you are ready to love someone, you must ready to be hurt by the one you loved. In short, broke up. Or sweeter, we can say, letting go." Saya semakin sadar bahwa ga ada yang bisa berlangsung selamanya di dunia ini.

Saat kita memulai suatu hubungan, pertemanan, pacaran, HTS-an, TTM-an atau singkatan labil lainnya yang marak dibicarakan umumnya. Saya lupa, bahwa dari itu semua, suatu hari semuanya harus punya akhir. Sama halnya ketika Kezia menuliskannya, di saat kita memulai, kita juga harus mengakhiri. Kapanpun, dimanapun...siapapun.

Terkadang saya mempertanyakan kenapa dalam hal menerima, harus kuat juga untuk menerima dan menahan 'rasa sakit'. Kenapa harus ada 'sakit'? Pernahkah kalian berpikir satu-satunya cara untuk tidak menerima sakit hati adalah untuk tidak menerima seseorang dalam hidup kita? Atau lebih tepatnya mungkin untuk tidak terlanjur jatuh cinta atau sayang dengan seseorang.

Tapi konyol. Justru semakin kita pungkir, kita tidak benar-benar jatuh cinta dan sayang dengan seseorang, maka disitulah kita semakin tidak kuat untuk berkata tidak, bahwa sebenarnya kita memang benar-benar terlanjur sayang bahkan cinta.

Kenapa rasanya sakit untuk melihat seseorang itu pergi? Dan rasa sakit juga ada ketika dia ada. Di saat dia gak ada, saya mencari-cari. Di saat dia ada, saya benci untuk menyadari bahwa saya masih peduli akan keadaan dia. Saya jadi teringat lagu Hello, goodbye - The Beatles. Ketika saya mati-matian pergi dari dia dengan melawan kenyataan bahwa saya peduli, dia datang. Dan ketika saya kembali lagi untuk belajar lebih menerima, dia pergi. Kenapa saya masih peduli?

Kenapa saya masih peduli ketika dia hanya menceritakan kesenangan dia pribadi ? Kenapa saya masih peduli ketika dia menceritakan bagaimana capainya dia dengan kesibukan yang dilakukan? Kenapa saya masih peduli dengan kesuksesannya yang dibanggakan dan pamerkan? Dan kenapa saya masih peduli bahkan ketika dia tidak peduli pada saya? Lebih parahnya lagi, saya mempertanyakan ini berulang-ulang, kenapa saya harus terlanjur sayang sama dia?

Hasilnya nihil, saya gak menemukan jawabannya. Mungkin rasa sayang saya ini tidak akan pernah ada alasannya. Sama seperti kita harus menerima orang lain. Tidak perlu ada banyak alasan untuk dikatakan ketika kita mau menerima seseorang.

Ketika kita sudah mulai menerimanya kembali kita juga harus bisa membiarkannya pergi lagi sewaktu-waktu.

"Letting go doesn't mean giving up, but rather accepting that there are things that cannot be."

July 29, 2010

Sakit...

Yak sepertinya badan gue akhir" ini mulai tumbang secara perlahan-lahan. Libur yang menyedihkan kalau diisi dengan sakit.

Pertama, mendadak gue mencret. Perasaan gue makan normal" ajah. Atau lupa doa sebelum makan jadinya yang di Atas marah..hahaha..biasa manusia kan sering khilaf, Tuhan. Setelah berulang kali keluar masuk wc dengan pegel", buka celana-jongkok-diem bentar-*crott*-diem lagi-*crott*-cebok-berdiri-pake celana (begitu seterusnya). Pegel men! Sumpah. Gue uda minum obat diare 1x tapi belum tuntas juga, akhirnya yang ke-2 kali baru ga moncrott lagi. Akhirnya.

Ke-dua, tiba" gue merasakan pusing yang sangat waktu lagi asik baca buku di sebuah toko buku di salah satu mall. Awalnya pingin muntah tiba", setelah gue mikir ini kenapa gue begini, jangan-jangan... salah makan? perasaan gue makan normal" aja. hamil ?oh tidak! hamil sama siapa gue? gue belum berbuat. Tapi akhirnya mualnya hilang diganti dengan pusing yang 'terlalu' (kata bang haji), tiba" aja penglihatan gue jadi kabur, gelap ga bisa liat apa" dan gue jadi keringat dingin. Bagus gue ngajak kakak gue saat itu, akhirnya ada yang 'tenang'in sampai ga pusing lagi. Sampai di rumah gue mikir, mungkin darah rendah gue kumat. Besoknya gue langsung kalap makan sate dan sop kambing. gue mau kambing eh maksudnya gue mau sembuh, mau normal lagi, jangan darah rendah kumat lagi. Dan akhirnya normal lagi setelah 2 harian istirahat di rumah tanpa pergi".

Ke-tiga, pilek lagi *srott* mungkin ini sakit yang sudah biasa. Hidung dan tenggorokan gue memang terlalu rentan. Kena radang tenggorokan dan panas dalam dikit aja bisa mengakibatkan pilek yang begitu sangat tidak enak.

Ke-empat, di suatu subuh badan gue menggigil. Sampai akhirnya besoknya gue minum obat demam tapi tetep aja ga mempan dan besoknya lagi gue meminum obat cina yang ampuh dikasih nyokap trus dikerokin sampai merah sama mba gue.

Sakit memang ga enak. Gue kepikiran dan bertanya sendiri 1 hal, ada ga ya orang yang ga pernah sakit selama hidupnya? Gue bertanya-tanya terus dalam hati. Mikir. Sampai akhirnya gue tanya juga sama mba gue.

Gue : "Ada ga ya orang yang ga pernah sakit selama hidupnya?"

Dan gue mendapatkan 1 pelajaran hidup *lagi* dari mba gue.

Mba gue : "Orang yang ga pernah sakit itu sombong."

Gue : "Kenapa?"

Mba gue : "Iyah, pasti bakal sombong dan ga akan pernah berbalik kembali sama penciptanya. Makanya dikasih sakit biar kita selalu ingat sama Tuhan."

Oh ternyata Tuhan itu baik dan selalu baik untuk mengingatkan kita selalu 'kembali dan terus kembali' kepada-Nya.

July 27, 2010

Makan malam yang 'sakral' di dalam keluarga

Entah kenapa tiba" muncul 'ilham' nulis tentang 'seberapa pentingnya makan malam di dalam keluarga' ketika lagi gosok gigi setelah makan malam sama keluarga. Gue jadi kepikiran waktu itu, apa jadinya ga ada acara makan malam dalam keluarga gue? Mungkin gue ga akan mendapatkan sebuah percakapan sama keluarga khususnya sama orang tua gue.

Entah kenapa dari dulu sampai sekarang di dalam keluarga gue, makan malam mungkin merupakan sesuatu yang 'sakral' dalam keluarga gue. Mungkin bagi keluarga lain merupakan hal yang biasa. Tapi gue mendapatkan perbedaan hanya di moment itu. Biasanya makan malam di keluarga gue antara sekitar pk. 18.30 sampai pk. 20.00 paling telatnya. Kalau dulu gue, kakak, dan adik gue selalu nunggu orang tua gue pulang kerja dan lalu kita semua makan malam bersama. Sebegitu sakralnya moment makan malam bersama keluarga buat gue dan keluarga ketika kita saling cerita satu sama lain tentang apa yang kita lewati pada seharian hari itu juga. Ga cuma cerita, terkadang bokap mengomentari dengan canda dan kita semua 1 keluarga ngerasain makan malam yang benar" nikmat dengan campuran percakapan yang kita lakukan. Walaupun masakan pada menu malam itu yang dinikmati mungkin tidak sesuai dengan selera salah satu anggota keluarga.

Mungkin itu semua hal yang biasa yang dilakuin banyak keluarga lain. Tapi waktu gue lagi gosok gigi setelah makan malam selesai, banyak pertanyaan yang tiba" muncul dengan sendirinya dan gue ga bisa menjawab itu semua. Pertanyaan" itu seperti,

"Apa jadinya ga ada acara makan malam di keluarga ini?"
"Apa jadinya kalau salah satu anggota di keluarga ini melewatkan kebersamaan saat makan malam?"
"Apa jadinya ga ada bokap yang selalu nimbrung dengan candanya dan sok gaul komentarin cerita anak-anaknya?"
"Apa jadinya ga ada nyokap yang jadi bahan ledekan kita semua di saat makan malam?"
"Apa jadinya ga ada kakak gue yang selalu cerita dan mendengarkan semua cerita yang lainnya terkadang dengan tawanya yang menggelegar tapi justru kita selalu kangen akan tawanya?"
"Apa jadinya ga ada adik gue yang juga jadi bahan ledekan kakak gue saat makan malam?"
"Dan apa jadinya ga ada gue mendengarkan semuanya bercerita dan kadang sedikit berkomentar?"

Itu semua sakral dan penting.

Hanya saat makan malam gue bisa merasakan kebersamaan, mendengarkan keluarga gue bercerita, bercanda sama", ketawa sama" karena di luar saat makan malam kita semua seperti ada jarak dan waktu yang terpisah antara satu dengan yang lainnya. Bokap dan nyokap yang selalu sibuk dengan kerjaan di siang hari, kakak yang kadang sibuk dengan pencarian kerjaannya atau mungkin dengan pacar, adik gue yang mungkin terlalu sok tahu dan sok dewasa dengan apa yang mungkin dia rasa cukup untuk hidup selalu foya" pergi dengan teman", makan dan menghabiskan uang atau cuma sekedar fitness, dan gue yang cuma bisa egois males"an di kamar atau bahkan juga pergi sama teman".

Mungkin gue dan kakak masih selalu menyempatkan waktu untuk makan malam sama orang tua gue, tapi adik gue punya 'waktu' untuk menyantap makan malamnya sendiri. Sangat jarang sekarang untuk gue dan yang lain melakukan makan malam yang se'sakral' dulu ketika kita semua masih kecil dan belum mengutamakan kepentingan sendiri. Tetapi gue selalu menjaga itu dan mengutamakan moment makan malam di dalam keluarga gue untuk ga akan pernah hilang walau ga se'sakral' dulu.

May 29, 2010

These are the words for your confusion to me.

One month ends, i managed to suffer greatly for not communicating with you.
I just wanted to say, thanks for the indifference that you gave.
Thank you for introducing God to me.
Because of Him, i remain strong in the indifference.
And i learned from the indifference that you gave, i have a defense mechanism.
And you surely know that.
I wish we can close again.
But you would agree that when we are shattered, we can't feel anything anymore as it used to when we are close to each other.
Now, that friendship sounds like friendshit.
And one more thing that i realized that i didn't mean anything to you.
May you always be happy with pride and the things you always be proud of in your life.
Because what i know, you're the only human who can live alone with the ability that you have.
I'm so happy with it all.