October 25, 2009

Being selfish or not?

Menurut saya egois itu adalah sikap atau tindakan dimana kita sebagai manusia tidak bisa menempatkan situasi yang dirasakan orang lain. Manusia itu plural. Kita sebagai manusia tidak boleh bersikap seenaknya sendiri, semaunya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Kalau mau seenaknya sendiri, semaunya sendiri tinggal aja di pulau yang gak berpenghuni, cuma ada anda seorang diri sama pohon kelapa (itu juga kalau ada, kalau gak gersang pulaunya). Tinggal sendirian seperti film Cast Away yang diperankan oleh Tom Hanks. Memang ia bebas melakukan semaunya di pulau tempat ia terdampar, tapi malah jadi stres sendiri, ngomong aja sama bola voli. Kalau mau jadi egois atau udah jadi egois kita bisa aja ngomong sendirian sama bola voli atau mungkin lebih parah lagi sama tembok. 

Jadi egois yang gak punya orang lain buat berbagi. Gak bisa atau mungkin gak mau bersosialisasi dengan yang lainnya. Hidupnya cuma buat dia sendiri, cuma mikirin pendapat sendiri, pikiran sendiri, perasaan sendiri, gak mau melihat apa yang sebenarnya ada, gak mau tahu pendapat orang lain, pikiran orang lain, perasaan orang lain. Kalau udah begini, susah jadinya.

Beberapa kutipan yang diambil dari Samuel Mulia:

"Yang waras yang ngalah". Maksudnya jangan terlalu dipusingkan dengan apa yang dilakukan seorang yang egois. Kalau kalian merasa lebih waras daripada yang egois itu, mengalah lah. Mengalah bukan berarti kalah kok. Mengalah itu bukan berarti pecundang. Mengalah itu memang sulit dilakukan, tapi saya berusaha untuk mencoba dengan segala keegoisan yang saya terima. Wujud tindakan mengalah yang saya lakukan adalah diam. Saya gak bilang kalian harus diam terus. Tapi selagi masih merasa diegoiskan oleh orang lain, diam aja. Kalau memang mereka sulit untuk diberitahu, mau bagaimana lagi?

"Apakah benar manusia sekarang semakin tak punya nurani, tak peduli, egois? Yang penting aku, aku, dan aku. Apakah nilai-nilai toleransi itu juga mulai menipis?"

"Apakah mereka (orang-orang egois) juga tahu, tetapi pura-pura tak tahu. Apakah mungkin mereka memiliki filosofi hidup macam begini, 'kalau bisa nyusahin orang mengapa harus membahagiakan?' Mungkin memang benar kali ya, di pikiran orang yang egois itu selalu ada pikiran untuk menyusahkan orang, tanpa peduli bahkan tanpa mau sedikit membahagiakan orang lain. Padahal sedikit aja mau dengerin masalah orang lain gak cuma masalah anda sendiri itu sudah bisa membuat orang lain tersenyum loh. Bahkan bahagia."

"Mengapa manusia itu bisa begitu egoisnya?"

"Mengapa susah sekali berpikir menyenangkan orang lain. Nah kalau sudah begini, nurani saya mulai turut berkicau dan dengan mudah ia melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya. Saya tak menjawab. Nurani saya berteriak, lo tahu enggak, jeng, situasi yang sekarang lo hadapin itu upah dari apa yang lo tabur. Kalau dulu lo pernah begitu egoisnya dan orang lain sengsara karenanya dan lo enggak inget atau pura-pura enggak inget, nah...sekarang lo rasa."

"Saya kaget setengah mati. Ya, ya ya...benar adanya. Saya marah karena orang begitu egoisnya, begitu tak sabarnya. Saya lupa saya juga pernah melakukan itu. Saya sedang diberi pelajaran ada harga yang selalu harus dibayar dari sebuah perbuatan. Mau itu masa lampau, maupun masa sekarang. Bentuk pembayarannya bermacam cara sesuai apa yang pernah saya tabur."

"Nurani saya masih belum puas dan tampaknya tak pernah puas. Kalu lo selalu omong mau jadi orang sabar, jadi orang pemaaf, yaaah...monggo, situasi ini dinikmati aja. Menjadi mulia itu perlu dibentuk dari hal-hal sulit, bukan yang mudah saja. Makanya neng, kalau omong atau minta sesuatu itu dipikir dulu masak-masak. Jangan asal nyeplos..."

"Sadari anda dan saya hidup di dunia bukan untuk menyenangkan hati anda, tetapi menyenangkan Sang Khalik. Jadi, obyektif menciptakan manusia di bumi ini adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk udel anda dan saya. Sama sekali tidak. Saya kok percaya, wujud Sang Khalik itu yaaa...ada dalam wujud bernama sesama manusia. Jadi, kalau anda dan saya kurang ajar dengan sesama, anda sedang kurang ajar sama Sang Pencipta. Kok berani?"

"Kalau anda menggertak sesama, ingat sesama itu adalah ciptaan Tuhan. Kok berani menggertak hasil ciptaan Sang Pencipta? Apalagi menggertak dalam keadaan bersalah. Anda bukan pemenang, anda justru pecundang. Anda tahu pecundang itu apa? Seseorang yang tak berani mengakui dirinya salah."

October 20, 2009

God said

God said, "If you never felt PAIN, how would you know I'm a HEALER?"

October 17, 2009

Mungkin

Mungkin Tuhan ingin kita bertemu dengan orang yang jahat sebelum kita bertemu dengan orang yang baik sehingga kita bertemu dengan orang yang benar, kita bisa bersyukur atas anugerah itu.

Mungkin teman yang paling baik adalah yang bisa menemani kita duduk dan berayun dalam ayunan di halaman rumah, tanpa mengucapkan sepatah kata, dan lalu pergi dengan perasaan telah melakukan percakapan terbaik.

Mungkin benar, kita tidak menyadari apa yang kita miliki sampai kita kehilangan, tapi juga benar, kita tidak tahu apa yang hilang sampai kita menemukannya.

Hanya perlu satu menit untuk menyakiti seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, dan satu hari untuk mencintai seseorang, tapi perlu waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Jangan percaya dengan penampilan karena penampilan bisa menipu. Jangan mencari kekayaan, karena kekayaan bisa hilang. Cari seseorang yang bisa membuat anda tersenyum karena senyuman bisa membuat hari suram menjadi cerah. Cari orang yang bisa membuat hati anda tersenyum.

Impikan apa yang ingin anda impikan. Pergi ke tempat yang ingin anda datangi, jadi orang yang anda inginkan, karena kita hanya punya satu hidup dan satu kesempatan untuk melakukan semua hal yang ingin kita lakukan.

Mungkin anda punya cukup banyak kebahagiaan untuk membuat anda manis, cukup cobaan untuk membuat anda kuat, cukup penderitaan untuk membuat anda manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat bahagia.

Selalu menempatkan diri pada orang lain. Jika anda merasa sesuatu itu menyakitkan, kemungkinan itu juga menyakitkan orang lain.

Ketika lahir, kita menangis dan orang-orang di sekitar kita tersenyum. Jalani hidup ini sehingga ketika meninggal, semua orang di sekitar kita menangis dan kita yang tersenyum.

Sumber : Unknown

Meredakan kemarahan

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu (Efesus 4:26)

Di buku rekor Guinness 2005, Percy Arrowsmith dan Florence tercatat sebagai suami istri tertua di dunia. Mereka telah menikah selama 80 tahun. Percy berusia 105 tahun, sedangkan istrinya 100 tahun. Namun, keduanya masih saling mencintai. Apa rahasianya? "Sederhana!" kata mereka. "Kami tidak akan pergi tidur sebelum menyelesaikan konflik. Tidak enak tidur membawa kemarahan. Jika bertengkar, kami berusaha saling mengampuni sebelum larut malam, supaya hari itu bisa ditutup dengan ciuman dan genggaman tangan."

Kemarahan bisa mampir mendadak; ketika kita dicurangi, dituduh bersalah, atau saat melihat ketidakadilan. Mazmur 37 ditulis bagi orang muda yang panas hatinya ketika melihat orang-orang jahat sukses. Mereka berbuat curang (ayat 1), melakukan tipu daya, tetapi hidup lebih berhasil ketimbang dirinya yang hidup lurus (ayat 7).

Kemarahan pun muncul. Jika dipendam, kemarahan ini akan berbuahkan iri hati dan kepahitan. Satu kali ia bakal meledak dan bertindak main hakim sendiri. Maka, pemazmur menasihatinya untuk berhenti marah (ayat 8) dan menyerahkan masalahnya kepada Tuhan (ayat 5). Biarlah Tuhan yang bertindak dan memunculkan keadilan (ayat 10,11). Kemarahan tidak berguna. Jika disimpan, ia bagai sampah yang membusuki hati.

Apakah Anda sedang marah atau kerap marah? Datangnya marah tak bisa dicegah, tetapi bisa diredakan. Ceritakan kekesalan anda kepada Tuhan, nantikan Dia bertindak, lalu padamkan amarah anda sebelum mentari terbenam. Jangan biarkan kemarahan mengotori hati, mematahkan semangat, dan mengganggu waktu tidur anda!

KEMARAHAN ITU BAGAIKAN KANKER IA HARUS SEGERA DIBABAT SEBELUM MERAMBAT

Sumber: r1v1an@yahoo.com

Tuhan menjawab doa, bukan berarti mengabulkan setiap doa, tapi Dia Tuhan yang memberi segala yang terbaik bagi kita

"Semua terjadi karena suatu alasan"

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa, tapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L, pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington DC . Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan dan percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini? Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?

Aku berpaling pada ayahku. Katanya, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja, agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya, karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang, karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan, karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan tiga cara :

1. Apabila Tuhan mengatakan YA
Maka kita akan MENDAPATKAN APA YANG KITA MINTA.

2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK
Maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK.

3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU
Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak-Nya.

Tuhan tidak pernah terlambat, Dia juga tidak tergesa-gesa, namun Dia tepat waktu.

-Nathaline Christine-

October 2, 2009

Untitled

"Kalau yang lain udah gak ada, masih ada Tuhan kok."

Gak tau kenapa, kalimat ini bikin saya sedih dan bangkit lagi. Jadi, kalau kalian lagi ngerasa sekarang ini gak ada orang yang bisa ngertiin kalian, gak ada disamping kalian saat masa-masa sulit atau orang yang kalian sayangin pergi gitu aja padahal kalian berharap banget sama orang itu, ingat kalimat ini aja ya.

August 9, 2009

Penting gak penting

Penting ga penting? Kenapa? Wah ga tau kenapa bisa jadi kepikiran nulis ini. Mungkin karena tadi pagi setelah udah satu minggu terkahir gak baca kolomnya Samuel Mulia, terus baru baca lagi tadi pagi jadi terinspirasi. Pernah ngerasa jadi penting? Atau ngerasa jadi orang yang gak penting bahkan paling gak penting sedunia? Saya cuma mau bilang, mending jadi orang yang gak penting daripada penting apalagi sok-sok penting. Kenapa? Menurut Samuel Mulia begitu. Jadi orang penting itu (yang ini menurut saya aja sih):

1. Orang penting itu biasanya sibuk bahkan sok sibuk. Gak mau dong jadi orang yang sibuk  sampai-sampai orang-orang terdekat aja dilupain karena kesibukannya.

2. Orang penting itu gak bisa merasakan kebebasan! Yaiyalah, coba deh liat orang-orang penting di dunia, misalnya tokoh-tokoh negara atau artis-artis terkenal (penting kalau sinetron atau filmnya lagi booming!). Lihat mereka. Gak bakal bebas buat gak jaim. Pasti jaim, gak bisa ngupil sembarangan, gak bisa kentut sembarangan, gak bisa bersendawa/bertahak sembarangan karena kekenyangan makan. Padahal itu semua nikmat loh. Coba kalau mereka sebebas itu mengekpresikan itu semua, pasti gak dianggap orang penting lagi atau dianggap imagenya bakal turun bahkan anjlok. Yaelah, jaman sekarang ada yah yang gak memperhatikan image untuk mengambil keuntungan atau mendapatkan popularitas? Perlu dipertanyakan kembali.

3. Orang penting yang ditempatkan sebagai posisi VIP atau VVIP. Bukannya Very Important Person (VIP) atau Very Very Important Person (VVIP) loh. Tapi kalau menurut Samuel Mulia, VIP justru VERY IMPOTENT PERSON atau VVIP yaitu VERY VERY IMPOTENT PERSON atau VERY VERY IDIOT PERSON.

Buat saya sih itu aja. Jadi kalau ada yang ngerasa, "Kayaknya saya gak penting deh, gak dianggap sama mereka." Tenang! Saya juga begitu kok. Beberapa orang juga pernah ngerasain hal yang sama. Tapi jangan terlalu dipusingkan dengan kepopuleran orang-orang yang jauh lebih penting dari kalian. Tapi pikir aja hidup kalian semua jauh lebih penting buat diri kalian sendiri. Beresin dulu hidup kita sendiri. Jangan terlalu 'jatuh' melihat mereka yang lebih penting. Yang penting kita masih bisa jadi yang terpenting buat diri kita sendiri dan Tuhan.

August 2, 2009

Apa adanya bukan ada apanya

Romo Anton bilang,

"Terimalah orang lain APA ADANYA bukan ADA APANYA."

August 1, 2009

Angel and demon

Jakarta, 24 Juni 2009

Kenapa Angel and Demon? Bukan karena saya mau review soal film yang dibintangi aktor nan cerdas itu, Tom Hanks. Tapi saya cuma mau nulis sesuatu yang udah saya baca kemarin-kemarin ini tentang tulisan Parodi dan Kilas Parodi oleh Samuel Mulia pada Koran Kompas, Hari Minggu tanggal 21 Juni 2009 lalu. Beliau menulis tentang kehidupannya dan tentang manusia yang membuat saya sadar dan makin ngerti tentang kehidupan orang-orang di luar sana, tentang kehidupan yang benar-benar 'nyata' sebenarnya.

Beliau menulis tentang pikirannya tentang kalau beliau mati, bakal masuk surga ga ya? Beliau dilema akan hal itu, karena menurut beliau ada dua hal dalam dirinya yang saling tarik menarik. Kutub negatif dan positif. Kebaikan dan keburukan. Pikiran beliau inilah yang membuat saya setuju banget. Di dalam hidup saya, saya juga merasakan demikian. Pasti setiap orang juga. Hidup itu ada negatif dan positif, ada baik ada juga buruknya. Gak mungkin setiap orang selalu baik. Pasti di dalam pikirannya pernah berpikir yang gak-gak juga.



Beliau berusaha sebisa mungkn menjadi manusia yang berakhlak seperti yang diinginkan orang tua dan negara (Saya juga begitu, Om. Cuma aja sangat tidak mudah untuk menjalaninya). Beliau juga mengatakan bahwa pergumulan secara duniawi dan spiritual membuatnya menjadi manusia yang tak beda dari bunglon (maksudnya berubah-ubah). Kadang jadi malaikat, tetapi sering juga jadi anak buah setan. Yang ini saya setuju banget.  Saya juga begitu (kok dari tadi saya cuma ikut-ikutan aja yah?) Tapi beneran. Tanya deh sama semua orang pasti juga pernah sekedarnya berbuat yang membuat setan jadi senang. Bahkan kalau ditanya masih banyak yang seperti itu sekarang ini.

Beliau menceritakan kegiatan-kegiatan pelayanan yang diikuti di gereja hingga membuat orang-orang terpesona dengannya. Tapi seperti kata beliau, orang-orang justru tidak tahu siapa beliau sesungguhnya. Sepulang dari kegiata-kegiatan tersebut, beliau tergoda melakukan hal-hal yang melenceng dari yang beliau bagikan kepada orang banyak (ini yang membuat saya tersenyum). Beliau juga menyatakan bahwa hidup beliau seperti kodok dan bunglon. Di dua dunia. Dunia yang berbeda secara ekstrem.

Ada lagi tentang kalimat beliau di tulisannya yang saya suka, begini bunyinya,

Saya disuruh hidup seia sekata, saya malah hidup tidak seia sekata. Alasannya bosan. Hidup itu perlu variasi, harus penuh dinamika. Kalau Cuma seia sekata, jadi gak lucu, maka perbedaan pendapat yang awalnya membuat hidup jauh lebih hidup, malah membuat saya membangun kelompok-kelompok tersendiri.

Angel and Demon merupakan satu paket dalam diri beliau. Karena keduanya itulah yang disebut manusia, bukan Tuhan. Yang ini lagi-lagi saya mengiyakannya. Kalau mau benar terus, yah itu Tuhan. Tuhan itu benar. Mutlak. Manusia bisa berubah-ubah itu juga mutlak. Bisa baik dan bisa buruk, tidak sempurna. Dan ternyata benar apa yang selalu dibilang Bunda Dorce, “Kekurangan adalah milik saya (maksudnya manusia, iyalah siapa lagi?). Kesempurnaan adalah milik Allah.” Tapi dari kalimat yang Om Samuel tadi tulis, ia menjadi takut sendiri. Takut jika hari penghakiman datang dan Sang Pencipta menanyakan tentang bagaimana beliau hidup dan mengevaluasi hidup. Apakah beliau bisa mengajukan kalimat-kalimat itu semua?

Berikut Kilas Parodi oleh Samuel Mulia yang berjudul “Inilah Anda dan Saya yang Sesungguhnya”. Ada lima point dari enam point yang saya sertakan dalam blog saya. Dan ini harus dibaca! Bagus banget dan buat saya jadi tersadar berkali-kali lagi.

1.  Jangan pernah berharap anda bakal tidak mengecewakan orang lain. Anda hanya manusia biasa. Biasa berbuat baik, biasa berbuat tidak baik. Kalau ada yang menasihati anda berbuat baik, tapi anda tahu ia hanya ingin kelihatan baik, diam saja, tak usah mencibir.

2.   Kalau anda mau berbuat baik, biarlah anda mencobanya, jangan menyerah.

3.  Anda dan saya adalah manusia yang naik turun. Kadang di atas kadang di bawah. Jadi, kalau lagi di bawah jangan mau dipaksa di atas. Nanti anda dan mereka yang menyuruh anda ke atas akan kecewa karena anda bukan man for all seasons.

4.   Saya dan anda adalah manusia penuh kejutan.

5.  Saya dan anda justru sempurna. Karena anda dan saya bisa jadi angel dan bisa jadi  demon. Itu kesempurnaan di tingkat manusia. Makanya, jangan lagi percaya kalau ada orang yang mengatakan nobody is perfect. Tetapi, demon di tempat anda bisa dikurangi atau diminimalkan, tak bisa dihilangkan, dan angelnya bisa dimaksimalkan. Jangan dibolak balik.

Yah semoga Om Samuel Mulia gak marah yah saya sertakan tentang tulisannya di blog saya. Soalnya tulisannya buat saya takjub banget dan tersenyum, terus ketawa deh. Beneran bikin saya sadar dan ngerti juga.

Anakmu pembantahmu

Jakarta, 27 Maret 2007

Bahwa sesungguhnya aku mencintai keluargaku lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Walau selalu merasa terasingkan, mungkin itu suatu ketidakpekaanku terhadap mereka. Tuhanku, terima kasih atas cinta-Mu meletakkanku ke dalam keluarga ini. Pa, dari semua lelucon-leluconnya tapi juga terkadang terlihat kelelahannya. Maaf, aku memang belum bisa merasakan lelah itu, Pa. Tapi aku telah tersadar betapa besar akan cintamu pada kami semua. Ma, teriakanmu semakin hari semakin membuatku menjadi seorang yang semakin dewasa. Walau kadang kau juga belum dewasa dalam menyikapi hidup, tapi dari semua sikapmu aku justru belajar. Dari salahmu sekalipun. Aku diwariskan sifat keras kepalamu, Ma. Hanya aku. Aku bangga. Setidaknya aku punya sikap dalam menentukan pilihan hidup. Walau aku tahu, banyak yang meninggalkanku dari sifat warisanmu itu. Ma, Pa.. apa aku bisa terus bersamamu sampai aku renta? Sampai anak-anakku nantinya bisa memanggilmu kakek nenek, walau sayup-sayup terdengar di telingamu. Apa aku bisa membahagiakanmu? Semoga ‘kan ada jawaban dari itu yang membuat kalian bangga telah melahirkan dan membesarkanku.

Anakmu, pembantahmu.

Egoism love

Apa yang bisa oleh cinta?
Perasaan semata, membuat hati bermakna, menjadi bahagia, atau hanya ego belaka?
Bila kelak termakan ego cinta, ingat bahwa kau tercipta bukan untuknya saja, tapi untuk mereka dan untuk dunia.
Simpan seperempatnya untuk mereka.
Atau mungkin setengahnya untuk dunia.
Karena dunia ada untukku.
Cinta, ria, tawa, kecewa, bahagia.
Semua karena dunia dan sang pencipta.

Untitled

Saya dapat dari seseorang.

"Sekeras-kerasnya orang pasti punya hati, itulah manusia."

Hidup itu pilihan

Bicara soal hidup, banyak tujuan hidup masing-masing seseorang yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tujuan menggapai masa depan contohnya. Banyak orang mulai memikirkan rencana masa depan mereka. Tapi ada juga yang belum terencana atau masih gak ada sama sekali pikiran kemana mereka akan melangkah. Atau juga yang kayak saya dengan go with the flow, ikutin arah kemana kaki melangkah.

Dulu waktu kecil kita sering denger lagunya Ria Ernes yang gini bunyinya “Susan, Susan, Susan, kalau besar ingin jadi apa?” Terus si Susan jawab, “Aku ingin jadi dokter.” Atau profesi lainnya yang menunjang masa depan di hidup mendatang yang nanti bakal hasilin uang walaupun korupsi sekalipun. Mau jadi pilot, dokter, insinyur, arsitek ga jadi masalah kalau kita mau berusaha. Berusaha? Basi banget nih kata-kata saya.

Kalau saya bilang tujuan saya pada sesuatu yang menyangkut soal selera seperti musik untuk ditekuni, apa untungnya?

“Musik hanya selera.” Itu yang saya dapet dari seseorang.
“Tapi yang penting senang.”
“Tapi gak ada hasilnya. Bukan sesuatu yang utama. Buat apa dijalanin kalo ga ada hasilnya. Makan deh tuh seneng. Jadi kita harus pilih yang utama.”

Hidup itu pilihan. Pilihan itu harus memilih dan memilih itu gak gampang. Gak asal comot, kayak kalian comot barang dengan gampangnya. Jadi pintar-pintarlah buat milih. Tapi di suatu pilihan pasti ada sedikit penyesalan dan itu bakal jadi pengalaman. Apalagi kalau kata orang-orang pengalaman itu pelajaran berharga, lebih berharga dari pelajaran apapun di dunia.

Dia

"Dipersembahkan untuk Kak Tika yang sudah berpulang pada Allah SWT"

Dia seorang yang peduli dengan keluarga. Dia seorang yang sangat sayang dengan keluarga. Dia yang memperjuangkan kehidupan ekonomi keluarga. Entah dengan cara apa dia mampu memperjuangkannya. Yang pasti di dalam pikirannya mungkin keluarga adalah nomor satu dalam hidupnya.
Dia wanita berusia sekitar 25 tahun. Cantik. Banyak yang mengakuinya. Tubuhnya tinggi. Matanya lentik. Rambutnya terurai panjang. Sekarang dia hanya memiliki seorang ibu, adik laki-laki, suami, dan seorang anak laki-laki yang sangat disayanginya.

Ayahnya sudah meninggal. Sudah beberapa tahun lalu. Dulu sewaktu masih hidup, ayahnya seorang pengedar narkoba dan juga pemakai. Entah apa yang ada di pikiran ayahnya. Saya juga bingung. Apa sang ayah masih peduli dengan keluarganya atau tidak. Tapi menurut sepengetahuan saya dari orang-orang, ayahnya seorang yang sangat sayang kepada anak-anaknya, dia dan seorang lagi yang laki-laki. Semasa hidup, ayahnya selalu bertransaksi narkoba. Tak ada jera. Mungkin sudah keluar masuk bui. Tapi kembali lagi ke dalam lingkaran narkoba. Mungkin pekerjaannya hanya itu-itu saja. Memisah-misahkan obat terlarang, meletakkannya di suatu kertas, dan membungkusnya. Atau memakai narkoba dengan menyuntikkan ke tubuh hingga ke taraf yang sudah tidak lazim lagi, yaitu menyilet pergelangan tangan atau bagian yang lain dan menghirup darahnya sendiri yang sudah bercampur barang haram yang baginya lezat itu. Itulah makanan sehari-harinya.

Istrinya selalu takut akan tindakan si suami. Tapi mau bagaimana lagi. Si istri hanya dapat mendukung itu semua dengan terpaksa. Pernah terdengar cerita tentang sang ayah. Ketika sang ayah sedang sibuk membungkus barang-barang haram itu untuk dijual, polisi datang. Dan ini mungkin tidak hanya satu dua kali. Mungkin pernah beberapa kali. Sang ayahpun dengan sigap naik ke loteng untuk melarikan diri dari pihak berwajib. Polisi sudah lama mengincarnya, tapi memang selalu tidak mendapatkan jejak sang ayah tersebut. Memang gesit. Saya tidak bisa banyak komentar. Mungkin sisi lain dari menjadi seorang pengedar adalah untuk menghidupi keluarga.

Tidak lama saya mendengar ayahnya meninggal karena barang haram yang sudah mendarah daging di tubuhnya. Ia overdosis. Sungguh tak enak bila mendengar akibat dari meninggalnya sang ayah, tapi keluarganya harus menerima dengan lapang dada. Sepeninggal sang ayah, dia membanting tulang berkerja untuk menghidupi keluarga, membayar uang sekolah si adik dan juga membeli semua keperluan hidup. Dia berkerja tak kenal waktu, sakit pun dia jalani. Di pikirannya hanya satu. Membahagiakan sisa keluarga yang ada, yaitu ibu dan adiknya. Ia pernah menjadi seorang SPG. Ia juga pernah menjadi pramugari. Hebat. Saya salut. Mungkin karena faktor kecantikan dan tubuhnya yang tinggi ia dapat menjadi seorang pramugari salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Tapi pekerjaan itu tidak bertahan lama. Tak tahu apa penyebabnya. Dan dia pun beralih ke perkerjaan yang lain. Karena mungkin hasil dari kerjanya tidak begitu banyak, adiknya selalu membantu tambahan uang dari pinjaman ke keluarga lain. Keluarga lain ikhlas karena kasihan melihat kehidupan keluarga si dia. 

Belum lama ini dia menikah dengan seorang laki-laki Batak paruh baya. Laki-laki ini sudah memiliki keluarga. si dia menjadi istri muda dari laki-laki ini. Terpaksa memang. Bukan karena cinta. Hanya untuk membantu memenuhi kehidupan keluarga karena laki-laki Batak ini kaya raya. Laki-laki ini memiliki seorang anak yang tidak lain adalah teman si dia. Saya mendengar kabar tentang dia bahwa si dia mau dinikahi si laki-laki Batak atas tawaran istri tua si laki-laki Batak ini. Istri tuanya sakit stroke. Jadi, si istri tua meminta si dia menikahi suaminya dengan alasan untuk mendapat keturunan lagi atau mungkin hanya untuk agar suami meluapkan nafsu birahinya. Dia terpaksa mengiyakan karena alasan keluarga lagi. Padahal dia dulu sudah memiliki seorang laki-laki pilihannya, calon dokter. Namun si laki-laki itu tidak disetujui oleh orang tuanya karena dia dari keluarga yang broken home. Takut-takut si laki-laki akan kena getahnya.

Dia menikah dan memiliki satu orang anak laki-laki, keturunan Batak yang pantas dibanggakan oleh bapaknya. Namun sayang si anak sakit-sakitan. Pernah saya mendengar, anaknya beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. Karena itu, dia sangat sayang anaknya. Tahun 2007 adalah tahun dimana dia divonis sakit kanker paru-paru. Saya sedih mendengarnya. Begitu banyak yang telah dia lakukan untuk keluarga, mengorbankan apa saja untuk keluarga dengan semua kebaikannya. Tapi apa balasan Tuhan? Bingung. Kapan Tuhan memberikan tangan-NYA untuk selalu ada di samping dia?

Malam itu. Dia terbaring lunglai. Sakit. Terbaring tak berdaya di ruang isolasi ICU. Memakai kantong udara dan masih bernapas kesusahan. Hanya untuk mengirup oksigen saja membutuhkan tiga juta lebih. Sedangkan saya dan yang lainnya bebas menghirup oksigen tanpa bayaran apapun. Dengan segala peralatan medis yang lengkap dia dirawar di ruang ICU. Dia terbaring sambil memeluk guling anaknya. Mungkin dia rindu akan anaknya. Tatapannya kosong. Hanya diam dan terpaku menatap orang-orang yang menjenguknya. Sesekali mengangguk diberikan nasehat dari orang-orang atau pun mendengar doa dari orang lain untuk dirinya. Dan dari itu semua saya sadar, saya yakin dan saya baru melihat tegarnya seorang wanita. Dia adalah wanita yang saya saluti, wanita tegar akan hidup dan benar-benar berjuang hingga sakit dideritanya.

Saya memasuki ruang isolasi ICU. Menjenguknya. Sebelumnya saya melihat banyak orang tak berdaya ada di ruang ICU. Ini kedua kali saya berada di ICU. Pertama melihat teman saya yang kecelakaan motor. Tragis. Untungnya teman saya selamat dari kecelakaan itu. Dan kedua adalah malam itu. Malam itu malam yang menyedihkan untuk saya dan keluarga. Dia adalah saudara saya.

Begitu saya masuk untuk pertama kali ke ruang ICU, saya masih kuat untuk menahan tangis. Tetapi untuk kedua kalinya. Saya dipanggil tante saya untuk mendoakannya. Tangannya yang tadinya dipegang erat oleh tante saya langsung diberikan kepada saya agar saya memegang tangannya erat sambil mendoakannya. Begitu tangannya saya pegang. Saya mulai menangis. Tangannya erat memegang tangan saya. Begitu juga saya.

"Kak Tika, Deby doain yah biar cepet sembuh." Begitu kata saya sambil memegang tangannya.

Dia pun menganggut. Saya semakin menangis. Saya mengelus kepalanya dan saya tahu bahwa rambutnya sudah semakin menipis. Mungkin rontok. Kulit kepalanya sudah terlihat. Dan dia masih dengan tatapan kosong. Entah memikirkan apa. Saya terus memegang tangannya kuat. Bagi saya tetap cantik seperti dulu walaupun sudah begini. Dan tidak ada yang bisa menandinginya.

Ayah saya membisikkan di telinga dia. "Tik, yang sabar yah. Harus lawan penyakitnya. Jangan takut. Jangan nyerah. Lawan terus peyakitnya."

Dia adalah seorang anak yang bertanggung jawab. Seorang kakak yang perhatian akan adiknya. Seorang istri yang mungkin terpaksa dinikahi tapi saya yakin lama kelamaan ada cinta untuk suami paruh bayanya. Dan seorang ibu yang sangat sayang pada anak satu-satunya.

Saya tidak tahu sampai kapan dia dirawat di ICU. Semoga akan ada mukjizat Tuhan untuk dia. Melihat dia yang tidak begitu dekat dengan saya, tidak pernah bertemu sekalipun bahkan akhir-akhir ini, dan sekarang terbaring begitu sakitnya, saya menangis. Apalagi orang terdekat saya yang seperti itu. Mudah-mudahan semua berakhir dengan lancar. Dia bisa sembuh dan membahagiakan keluarganya lagi.