September 12, 2022

Tentang Ayah

Rasanya masih ada. Sesak, sedih, Hilang.

Tepatnya kemarin malam, saya bermimpi tentang ayah. Lupa tak tau dimana. Tapi saat itu tergambar jelas di mimpi, keadaannya tegang, panik, dan kacau. Ayah tersedak hingga tak bisa bernapas, saya mencoba berusaha sekuat tenaga melakukan pertolongan pertama. Tapi tak tertolong. Saat bermimpi, saya menangis sejadi-jadinya, terisak. Hingga saya terbangun, saya pun masih menangis. Cukup lama. Hati ini tak siap walau hanya mimpi. 

Saya tak dekat dengan ayah. Bukan berada di suatu hubungan antara ayah dan anak perempuan yang akrab. Malah canggung untuk berkata-kata jika bersama. Mungkin perkara kebiasaan yang menjadi tidak biasa dan seoah-olah tidak apa-apa tapi sebenarnya kenapa-kenapa. Ada rahasia yang saya tahu ayah sembunyikan. Ada kesalahan dan penyesalan ayah yang saya tahu betul belum selesai hingga saat ini. Sehingga hal itu seakan menjadi tanggung jawab yang tak selesai-selesai dirampungi ayah. Memang sudah tugas seorang ayah bertanggung jawab dalam keluarga. Namun satu hal ini berbeda. Mungkin ayah sempurna menjadi seorang ayah pekerja keras, penafkah istri dan pelindung anak-anaknya. Tapi ayah bagi saya belum bisa bertanggung jawab untuk kepahitan yang dialami istri dan anak-anaknya hingga saat ini. Atau mungkin salah satu dari kami belum memaafkan atau menerima?

Terlepas dari yang terjadi sampai saat ini. Hati saya memang tak siap ditinggal ayah. Janji saya untuk diri sendiri adalah belum sempat merekam suaranya. Suatu saat mungkin akan berguna untuk saya ketika rindu itu muncul dan ayah sudah tak ada. 

Untuk ayah, biarpun bibir ini tak pernah berucap. Doaku selalu ada untukmu. Sehat dan terus dilindungi. Saya cinta ayah.





May 26, 2022

Harga yang Pas untuk Sebuah Tiket

Maksudnya disini adalah tiket pertunjukkan apapun di bidang entertainment atau menghibur penonton seperti konser, festival musik, live music, teater, drama musikal, stand up comedy, dan lainnya.

Hi!

Sudah lama gak menulis ya. Ingin saya bilang mau aktif kembali tapi takut hanya wacana seperti lalu-lalu bilang mau aktif kembali, nyatanya hanya satu atau dua tulisan yang ditulis dan dipost. Trigger menulis kali ini didapat karena melihat blog seseorang yang aktif menulis lagi setelah sekian lama. Dan berpikir, kayaknya asik ya kalau nulis lagi. Apalagi nulis tentang apa yang lagi ada di pemikiran saat ini.

Berhubung pandemi perlahan (mungkin) akan menjadi endemi. Aktivitas-aktivitas sebelum pandemi sudah mulai diperbolehkan kembali seperti jadwal konser atau festival musik yang sudah banyak diumumkan kembali oleh para promotor Indonesia. Saya tertarik untuk menuli berkaitan hal tersebut.

Hampir saja saya berhasil membeli tiket salah satu festival musik ternama yaitu Java Jazz Festival 2022. Tapi hanya hampir. Berujung dari janjian mau nobar sama teman yang memang sudah lama tidak bertemu dan sepakat untuk nonton salah satu konser atau festival musik. Mulailah saya mencari beberapa festival musik dan yang terdekat jadwalnya adalah JJF 2022. Kebetulan melihat salah satu post story teman yang menjual tiket JJF 2022, saya langsung kontak beliau. 

Long short story, saya sudah deal dengan yang punya tiket, karena katanya beliau diberikan free oleh kantornya. Belum sempat bertemu untuk mengambil tiket dan bayar, dapat kabar bahwa tiket yang awalnya dibagikan free ditarik kembali dan mau dibagikan langsung OTS kepada karyawan. Padahal kalau bisa dapat, hanya dijual seharga Rp 350.000,- yang tadinya Rp 850.000,-. Think twice. Karena faktor usia yang tidak muda lagi, sudah terlalu cepat lelah berdiri dan kesana kemari berpindah venue saat festival musik, dan harga tiket yang menurut saya gak worth jika dengan keterbatasan waktu dan fisik sekarang ini, saya memutuskan untuk skip untuk nonton JJF 2022.

Boleh ya next festival musik aja.. Yang lain mungkin yang lebih murah? Mungkin.

Akhirnya tiket yang saya akan tonton adalah Musikal Petualangan Sherina. Sebenarnya saya sudah menonton drama musikal ini pertama kali tahun 2017 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Kalau ditanya how's the show? Saya selalu bilang, akan beli tiketnya lagi dan ajak keponakan untuk nonton jika suatu saat nanti diselenggarakan kembali. Sebenarnya di tahun 2020, promotor sudah ingin menyelenggarakan kembali namun karena pandemi yang tak kunjung berakhir dan sempat tertunda hingga 2 kali. Dan mudah-mudahkan tahun ini, pertunjukkan MPS berjalan lancar.

Tiket Early Bird ludes cepat. Hanya tinggal tiket dengan harga normal. Mahal. Tapi ketertarikan dan penantian saya dengan MPS cukup kuat sehingga tiket yang harganya cukup mahal saya beli. Setelah itu saya menerka perasaan ketika selesai membayar lunas tiket. Apakah akan ada perasaan menyesal? Semenit, dua menit, lima menit, satu jam, beberapa jam. Aman. Berarti ini salah satu pertunjukkan yang saya cintai bukan sekadar saya sukai.

Saya suka musik. Saya suka melihat pertunjukkan seni, apapun. MPS melengkapi keduanya. Dan lagi drama musikal ini dari film saat kecil dulu, yang gak pernah bosan untuk ditonton berulang kali. Saya cukup yakin, bulu kuduk dan hati saya bergetar lagi ketika ada di venue dan menonton kedua kali MPS.

Jadi, harga yang pas untuk sebuah tiket khususnya pertunjukkan entertainment itu berapa? Menurut saya, jawabannya tidak ada. Murah atau mahal relatif. Bisa jadi dibilang mahal ketika kita memang tidak benar-benar mencintai pertunjukkannya. Atau bisa jadi harga yang mahal itu bukan halangan karena kita berpikir 'kapan lagi kita bisa menontonnya kalau bukan sekarang?' 

Bisa gak kita mengukur seberapa puasnya kita dengan suatu pertunjukkan sebelum kita membeli tiket tersebut? Kalau kita cinta dengan pertunjukkannya (dilihat dari POV terhadap pelaku seni, karya seni, atau hal lain yang mendukung) kita pasti akan selalu mau ikhlas, terlepas puas atau tidaknya setelah menonton pertunjukkan. Ingat, mungkin saya bukan pelaku seni. Tapi saya tahu, bagi mereka para pelaku seni, banyaknya orang yang menonton pertunjukkan mungkin adalah bonus untuk mereka. Yang paling penting adalah kesan dan pesan (perasaan) yang disampaikan penonton untuk para pelaku seni. Karena karya mereka lahir dari hati dan keresahan. Untuk menjadi karya dibutuhkan usaha. Juga, untuk menjadi cerita butuh pengakuan dan apresiasi yang sebelumnya datang dari hati pula.

Beli tiketnya Musikal Petualangan Sherina, 1 - 3 Juli 2022. Selagi masih ada!

September 25, 2021

Blackout

Aku tahu persis rasanya mungkin hampir lewat

Sendiri tanpa orang terdekat

Menjadi dewasa lebih tepatnya orang tua ternyata rumit

Selalu berpura-pura baik padahal sekitar sadar bahwa ada yang tidak beres

Begitu rasanya sesak di dada 

Entah karena sakit fisik atau jiwa

Hari ini aku membuktikan bahwa baik saja tidak cukup

Sehat penting untuk diri dan tentunya support system

Mengingat sudah berapa kali terjadi

Dua kali, mungkin tiga, atau pernah sering terjadi

Tapi kuabaikan karena merasa bisa mengatasinya sendiri

Ternyata semua pecah hari ini

Berusaha kuat dengan fisik yang sudah lelah diajak kompromi

Berusaha waras dengan pikiran yang kadang kalut entah kemana

Detak jantung berdegup kencang, semua seakan menjadi putih tanpa warna

Apakah surga di depan mata?

Pelan turun, tanpa sadar jatuh tergeletak lemas tak berdaya

Berusaha meminta bantuan sayup sayup seketika hilang

Samar terdengar teriakan panik dari mereka yang peduli

Terima kasih, masih ada.

Berusaha mencerna di hilangnya sadar

Ada apa dengan tubuh ini? Atau pikiran ini?

Ternyata begini rasanya mengabaikan diri

Harusnya sadar, diri ini yang harusnya bahagia

Aku tak mau begini jika pada akhirnya merepotkan semua

Terima kasih telah tunjukkan harus apa setelahnya


Jakarta, 25 September 2021

May 2, 2021

7 Hari dan Hari-Hari Berikutnya

Sudah lewat 7 hari di sini. Adaptasi. Masih dengan beradaptasi untuk hari-hari seterusnya sampai kerasan dan menjadi nyaman. Adaptasi dengan lingkungan baru, kerjaan baru, teman-teman baru, dan yang baru nanti lainnya.

Belum terbiasa dengan laju mobil motor yang terlalu cepat, secepat lintasan di jalan bebas hambatan. Padahal banyak sekali hambatan di lingkungan baru ini, salah satunya lubang-lubang di jalan, tambalan kasar jalanan, atau salah satu lampu lalu lintas yang terlampau lama durasinya.

Banyak SPBU yang self service. Semakin canggihkah lingkungan ini? Atau terlalu hectic-nya orang-orang, layanan satu orang petugas SPBU tidak bisa cukup buat mereka? Toko buah besar selalu padat pengujung, terlihat dari parkir yang selalu penuh. Jalanan besar di antara jejeran ruko-ruko yang tidak kalah ramainya dengan jalanan ketika libur akhir pekan. Belum cukup terbiasa dengan tempat ini.

Terlalu ramai membuat pusing. Mungkin, kalau bukan karena pergi ke kantor atau membeli sesuatu yang dibutuhkan lebih baik di kos. Mengetik, merenung, mendengar playlist, sambil sesekali menengok ke kiri ke jendela luar. Bahagia masih ada dedaunan dan hijau yang dilihat. Dan sinar matahari yang memancar ke dalam kamar. Angin sesekali masuk membawa hawa sejuk. Kadang, malam pun tak pelu AC untuk tidur nyaman.

7 hari ini selesai dan hari-hari berikutnya akan ada apa lagi ya? Merenung sambil mendengar detak jam dinding. Dan ditemani suara dari jauh sana. Rindu ya.

April 25, 2021

Nomaden

Tangerang,

Di sini sekarang gue. 2021, satu tahun pandemi, mulai bekerja lagi di tahun 2020, mencoba hidup lebih mandiri, nomaden. Sudah 3 kali ganti tempat tinggal (kos-kosan). 30 tahun. Angka yang banyak ternyata, tapi gue malah belum merasa cukup banyak ilmu dan hidup yang diserap. Terlalu banyak penyesalan dan terlalu santai menjalani hidup sebelum usia sekarang. 'Mau jadi apa nantinya?', bahkan masih jadi pertanyaan besar di hidup gue. Gue bahkan nggak bisa decide mau jadi apa gue nantinya. Lebih tepatnya nggak punya goals sama sekali. Gue selalu bergerak dari satu ke yang lainnya berdasarkan kesempatan yang sekiranya menurut gue bisa gue jalani. Tapi gue nggak tahu 5 atau 10 tahun ke depan akan seperti apa atau menjadi apa.

Salah ya?

Kata seseorang ke gue, ada plus minusnya. Gue nggak hidup di satu titik dan memperbesarnya, tapi gue ada di satu titik lalu pindah ke titik-titik lainnya. Bisa luas juga, tapi who knows?

Kata seseorang lagi, gue harus menanyakan apa sih yang gue mau dalam hidup? Gue suka apa? Pertanyaan ini mungkin bisa menentukan gue akan jadi apa atau siapa ke depannya.

Gue bilang, "Gue suka nulis."
"Terus, kenapa lo nggak coba kerja nulis di media-media. Gue lihat, tulisan lo punya pemikiran sendiri selama ini."
"Tapi gue juga masih penasaran, mau belajar di brand seperti apa? Kayak gimana?"

Sampai akhirnya gue berhenti lagi di pekerjaan gue terakhir kemarin, advertising agency. Sebelumnya gue berniat setelah mendapatkan pekerjaan di periklanan lagi, gue mencoba untuk fokus dan stay, belajar untuk menerima, menetap, dan loyal. Keinginan itu kuat, sampai-sampai di pertengahan ada rasanya lagi ingin berhenti karena beberapa faktor. Mencoba mempertahankan lagi, bangkit lagi semangatnya untuk tetap stay. Ternyata suasana semakin membawa emosi gue, mulai mencoba lagi di tempat-tempat lain dan akhirnya ditawarkan di suatu brand F&B.

Takut?

Iya. Gue takut nggak bisa perform. Gue takut ekspektasi mereka di luar kemampuan gue. Gue takut gue nggak bisa adaptasi dengan lingkungan baru dan bekerjasama, Gue takut banyak hal yang belum terjadi buat gue besok, hari pertama gue kerja lagi, dan sekarang bukan main-main. Tuhan mengabulkan doa dan permintaan gue untuk berada di suatu brand. Apa gue mampu?

Hidup nomaden seseru itu, bisa punya pengalaman yang baru lagi. Tapi juga bisa menciptakan perasaan rindu dengan rumah. Gue mempertanyakan lagi, apa itu perlu? Di usia gue sekarang, mandiri itu perlu. Mungkin, perasaan rindu juga perlu. Sesekali berada jauh dari rumah, dari orang-orang yang gue sayang dan dekat. Biar gue bisa merasakan rindu yang sebenar-benarnya. Biar 'pulang' bisa jadi kata yang paling diinginkan.

Mungkin selagi lebih jauh lagi dari rumah, tulisan-tulisan ini ke depannya bisa jadi self healing gue.
Sampai berjumpa lagi, Jakarta.
Selamat berteman, Tangerang.
Semoga semesta mendukung dan menemani langkah kaki ini entah mau ke mana nantinya.

November 1, 2017

I See You

Menjelang ulang tahunmu genap dua tahun. Usia yang masih kecil. Tumbuhlah menjadi laki-laki lucu dengan senyuman paling manis yang pernah aku tahu. Tepat dua tahun lalu, kau lahir melihat semesta ini. Entah apa yang kau lihat pertama kali ketika kau membuka mata dan kami semua mendengar suara tangismu menandakan semua akhirnya baik-baik saja. Aku masih terlelap malam itu dan terbangun ketika mulai mendengar suara sayup kepanikan di luar kamar tidur. Aku membuka mata dan berpikir, mungkin ini saatnya kau ada bersama kami. Dan ternyata benar, air ketuban ibumu sudah pecah. Malam itu, aku tidak sabar menunggu pagi.

Aku terbangun pagi hari dan segera berkemas tidak sabar melihatmu. Membuka pintu kamar bersalin dengan rasa senang campur takut. Aku tidak sabar lagi mendengar dan melihat seperti apa kau nanti. Tampak upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sedang disiarkan di semua stasiun televisi. Kami tahu bahwa hari itu adalah hari paling bersejarah untuk negara ini dan keluarga besar kami. Satu anggota keluarga kami akan lahir. Siapa yang mengira bahwa kau sudah menjadi menggemaskan seperti sekarang ini.

Tepat jam 12 lewat 10 menit siang hari. 17 Agustus 2015 kau dilahirkan.Tangisan bahagiaku mendengar tangisan pertamamu. Doa Bapa Kami dan Salam Maria diperdengarkan pertama kali di telinga kananmu dari nenekmu. Semua berbahagia tanpa terkecuali. Itu pertama kalinya aku yakin bahwa melahirkan adalah proses perjuangan luar biasa seorang ibu. Menangislah ibumu melihatmu pertama kali. Orang yang sekarang sudah menjadi bude yang membantu ibumu merawatmu juga menangis saat itu. Dan aku, orang yang setiap mengelus perut ibumu, saat kamu masih nyaman berdiam disana dengan doa yang selalu aku panjatkan agar kau selalu sehat, menangislah aku mendengar suara tangisanmu pertama kali.

Banyak cita-cita yang aku inginkan untukmu seperti peka terhadap musik, punya jiwa seni, atau hobilah olahraga di waktu mudamu. Kedua orang tua-mu apalagi. Suatu saat nanti pasti kau akan merasakan kebanggan luar biasa kedua orang tua-mu memilikimu. Meskipun demikian, tetap jadilah anak yang selalu rendah hati, menyenangkan, periang, yang selalu mendendangkan lagu di setiap marah sekalipun.

I see you, I Putu Chandra Dharma Supartha. Jadilah kesayangan semua orang di keluarga ini tanpa terkecuali. I see you, kalimat pengganti yang kau ucapkan karena tidak bisa mengucapkan I love you ke kami semua.

I see you with a grace and love everytime..

March 30, 2017

Mencari yang Lucu


Baru menemukan apa yang dicari selama ini. Sebuah anime figure untuk ditaruh sebagai pajangan di mobil. Alasan kenapa membeli ini, karena...

Simple.
Pajangan di mobil udah gak ada.
Kalau dilihat dan dipikir-pikir anime ini sifatnya mirip sama gue. Berkacamata, pemalu, penakut, pemalas tapi pemimpi. Bedanya, dia cowok dan gue cewek.
'No drunk driving', karena gue tahu gue bukan perokok jadi pasti gue gak pilih anime figure bertuliskan 'no smoking', gak mungkin kan gue merokok di dalam mobil gue sendiri apalagi mengijinkan orang lain merokok di dalam mobil gue. Kalau 'minum' iya, tapi belum pernah sampai mabuk. Jadi, 'no drunk driving' bisa sebagai pengingat gue kalau lagi di jalan mungkin...
Terakhir adalah lucu.

Animenya lucu, bentuknya pun lucu. Gue sedang mencari yang lucu. Biar bisa ketawa lagi di saat jalani penatnya hidup, jenuhnya bekerja. Ternyata mencari yang lucu itu susah...Bahkan kalau lagi terpaksa mencoba melucu dan malah mentertawakan diri sendiri.

February 18, 2017

Siapa yang Mendoakan Kamu?

Pernah berpikir gak kalian bisa sampai sekarang ini, bangun pagi, sehat, pergi melakukan segala aktivitas masing-masing, berkendara di jalan, kerjaan lancar, pulang lagi ke rumah itu karena apa Kalau kalian menjawab karena 100% usaha kalian sendiri, Kalian harus mikir berkali-kali deh.
Pernah berpikir gak bahwa itu semua karena persentase doa dan persentase usaha dilakukan seimbang. Ya, jangan diukur lah ya. Yang pasti keduanya harus beriringan.

Dan, pernah berpikir gak atau berusaha sok menebak siapa aja sih orang-orang yang mendoakan kalian? Apapun yang kalian kerjakan, di saat kalian mendapat untung ataupun malang, itu karena doa seseorang. Seseorang itu siapa? Banyak.

Doa bukan hanya yang diucapkan di saat malam atau pagi hari, bukan di saat kita sedang kesusahan. Tapi juga harus diucapkan pada saat sedang bersukacita. Pagi ini gue kembali tersadarkan dan percaya bahwa gue bisa sampai disini sekarang karena doa banyak orang. Pertama, pastinya orang tua. Dan lainnya, gue gak tahu dan gue pengen tahu sebenernya siapa aja.

Katanya lagi nih, kalau nama kita terselip di doa seseorang berarti siapa tahu kita adalah orang yang berarti buat mereka yang mendoakan. Tapi masalahnya, doa bukan hanya ucapan khusyuk yang ditujukan kepada Tuhan aja, melainkan bisa ucapan dari orang yang mungkin sebagai kekesalan atau kemarahan semacam "Awas aja, gue doain.... (isi sendiri yang jelek-jelek)". Kalau seperti itu bagaimana?

February 15, 2017

Nulis (Lagi)

Tiba-tiba dua minggu terakhir ini, gue kangen nulis. Ya, nulis (lagi).
Banyak yang bilang, kalau mau mahir nulis harus banyak baca.
Berawal dari membaca. Baca yang banyak aja dulu. Pasti lama kelamaan otak kita jadi terbiasa dan menyerap banyak kata-kata yang sebelumnya gak pernah kita dengar.
Kuantitas bukan kualitas. Jangan kebanyakan mikir. Buang jauh-jauh rasa pengen edit tulisan karena takut opini atau komen orang-orang tentang tulisan kita.

Kenapa hasrat pengen nulis bisa ada lagi? Kenapa kangen nulis (lagi)?
Mungkin karena jenuh sama kerjaan. Jenuh harus disuruh-disuruh terus sama bos. Jenuh pulang malam terus. Jenuh akan rutinitas yang gitu-gitu aja. Gak ada taste atau interest lagi buat jalani kehidupan sebagai seorang karyawan swasta. Dan pengen sesuatu yang dirasa lagi ketika dulu masih sering-seringnya nulis.

Pernah kepikiran, begini.
Resign, pergi ke luar Jakarta, ambil banyak pengalaman di luar sana dan menulis sebanyak-banyaknya. Cita-cita dari dulu. Mau jadi orang yang punya buku sendiri (terlalu muluk gak ya?). Bukan sebagai karyawan terus atau lanjutin usaha orang tua. Atau paling nggak, pilihan terakhirnya adalah menjadi entrepreneur. Tapi menulis akan tetap punya kesan tersendiri. Mungkin karena dari dulu udah suka pelajaran Bahasa Indonesia, baca buku atau bukan tipe orang yang ekspresif sharing semuanya langsung secara verbal. Entah.

Semoga ini awal gue konsisten lagi nulis. Gak berharap banyak pembaca atau yang mampir dan sekedar ngintip ada apa sih di blog ini. Tapi memang akhir-akhir ini mau sharing apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan. Bukan buat pamer. Gak ada niatan untuk itu karena gue tahu vlog masih jauh lebih ngetren saat ini dibanding blog. Tapi cuma rindu. Dan mungkin lagi merasa....sepi.

May 24, 2014

Cinta..

"Cintanya udah hilang nih."
"Iya, cintanya kebanyakan pakai Bayclin, jadinya udah luntur."

"Kok gue cintanya ke dia gak luntur-luntur ya?"
"Iya, kan cintanya pakai Borax, jadinya awet."

April 18, 2014

Di waktu jam kerja kantor.

"Kerjaan gak ada habis-habisnya kayak dosa....." -Dennis

March 1, 2014

Thankyou Twenty two

Thankyou twenty two
Kamu dapati aku
Semangat menggebu-gebu
Lulus utuh penuh
Traveling selalu
Kerja jatuh bangun melulu
Bertemu orang baru
Jatuh cinta sama kamu
Konser mendayu-dayu
Sedih resign jenuh
Mimpi masih utuh
Cari kerja dulu
Dan sebentar lagi berlalu
Twenty two yang dulu
Thank you..

February 15, 2014

"Kok lo suka saos sih? Kan asem." 
"Hidup tuh jangan cuma pedes, tapi ada asemnya juga."
"Kalau manis?" 
"Manis kalau endingnya bahagia aja." 
--- 
"Ini kemanisan." 
"Katanya biar endingnya manis."

February 5, 2014

Bertemu Tuhan

"Kasur mahal banget sampai 15 juta."

"Tidurnya ketemu Tuhan."

"Mending kalau ketemu Tuhan langsung masuk surga.....Kalau disidang dulu?"

Bertemulah kalian di surga

Januari di tengah bencana
Terdengar sayup kabar dukacita
Mungkin tak tepat waktunya
Terus terdengar tanya mengapa

Matinya semangat seorang teman
Tak lagi punya harapan
Hilang habis teduhnya aman
Tak terkira jahatnya jaman

Menangis saat dia menangis
Tak tahan haru terkikis
Tanya kenapa rasanya miris
Ini jangan dibawa mistis

Bertemulah kalian di surga
Lindungi dari jauh ananda
Walau kalian tak ada
Semoga kalian ikhlas berdua

*Didedikasikan untuk seorang teman dan seorang adiknya yang ditinggal kedua orang tuanya bersamaan.

-January 22th, 2014.

January 14, 2014

Selingkuh

Selingkuh.

Mungkin diambil dari kata selingan...ku.

Mungkin. Apa lagi?

Kalau mau, coba saja.
Tapi tanggung sendiri akibatnya.

July 26, 2013

Bingung mau kasih judul apa

Jadi,

Percuma punya bagian tubuh lengkap dan sehat, tapi kalau satu bagian tubuh tidak diperhatikan dan tidak berfungsi akan berpengaruh dengan bagian tubuh lain. Seperti punya mata, hidung, telinga, mulut lengkap dan sempurna, tapi (maaf) pantat/dubur tdak berfungsi baik sama aja. Kita bisa apa, kalau (maaf) pantat/dubur lagi ngambek dan gak mau berfungsi, semua seakan sia-sia. Perut mules tapi isi perut gak bisa dikeluarin karena si 'itu' ngambek. Pasti bakal jadi sakit semuanya. Kepala pusing, keringat dingin, gak nafsu makan.

Intinya sih cuma ini,

Walaupun hal yang sekecil apapun, paling hina sekalipun harus kita perhatikan. Gak cuma hal-hal yang kelihatan di mata saja yang diperhatikan. Sama untuk hal-hal lainnya yang ada di dunia.

July 9, 2013

Cuma 2000 perak

June 18th, 2013.

Saya sontak kaget dan bertanya-tanya. Ketika perjalanan menuju kantor, ada seorang ibu dan dua orang anaknya tiba-tiba memanggil saya dan meminta ongkos untuk naik angkutan umum. Semula saya tidak terlalu jelas apa yang dikatakannya, lalu saya mencoba mendekatinya dengan perasaan takut-takut. Takut dan cemas apakah si ibu benar hanya meminta uang atau ada modus lain seperti penipuan. Tapi saya mencoba memberanikan diri untuk mendekati dan menanyakan lagi apa yang dimintanya. Ternyata benar, ibu tersebut meminta ongkos untuk naik angkutan umum. Saya langsung mengatakan tidak punya uang receh lagi dan kebetulan saya juga ada keperluan untuk naik angkutan umum. Padahal saya mengantongi uang 2000an untuk naik angkutan umum juga. Ada tiga alasan saya awalnya tidak mau memberikan uang kepada si ibu, yaitu:

1. Saya melihat penampilan si ibu dengan dua orang anak. Ia tampak berkecukupan dengan penampilan setidaknya masih mampu untuk membayar ongkos angkutan umum yang hanya 2000 perak saja, Masa gak punya 2000 perak?

2. Saya malas mengambil uang receh lagi di dompet apalagi kondisinya saat itu sedang berada di pinggir jalan yang ramai dan rawan.

3. Saya takut dan cemas, jika saya sudah mengambil uang di dompet nanti jangan-jangan dompet saya diambil oleh orang lain yang berniat jahat atau diambil oleh si ibu.

Setelah beberapa detik diam dan memperhatikan si ibu dan dua orang anaknya, saya akhirnya membantu mereka. Salah satu anaknya memasang wajah memelas di depan saya sehingga membuat saya tidak tega juga dan berpikir, "Kenapa sih mau niat bantu tapi kok takut atau cemas?" Saya langsung membuka dompet untuk mengambil uang 2000an. Bodoh amat deh bagaimana nantinya, saya kasih dulu uangnya. Kalau-kalau nanti ada yang niat jahat mengambil dompet saya...yaaaa...sudah...Begitu pikir saya saat itu.

Saya memberikan uang 2000an itu kepada si anak. Dan mereka langsung tersenyum dan berterimakasih pada saya. Saya lalu meninggalkan ibu dan dua orang anaknya untuk menyeberang jalan. Ketika sudah sampai di seberang jalan, sambil menunggu angkutan umum, saya mengamati mereka masih berdiri di pinggir jalan. Entah mau kemana, kepentingannya apa, kenapa minta uang untuk ongkos naik angkutan umum padahal dilihat dari penampilan setidaknya mampu untuk bayar angkutan umum yang hanya 2000 perak, dan kenapa hanya minta 2000 perak? Apa jangan-jangan saya lagi ada di acara televisi yang program acaranya meliput orang yang ikhlas atau tidak membantu orang lain yang sedang kesusahan? Ah masa begitu.

Saya masih memikirkan kejadian tersebut seharian. Dan paling tidak jadi mempertanyakan niat saya yang sebenarnya ingin membantu orang tapi masih takut-takut dan cemas. Kenapa jadi saya berpikiran negatif terlebih dahulu sebelum saya berbuat sesuatu? Apa kalian pernah ada di posisi seperti itu? 

Saya percaya semua orang itu baik. Hanya kondisi dan situasi yang menyebabkan orang tidak melakukan hal-hal baik. Setiap orang pasti memiliki niat baik. Siapa sih yang tidak pernah menolong sesamanya? Pasti semua pernah. Entah itu untuk motif apa dan niatnya ikhlas atau tidak. Tapi terkadang niat yang baik saja tidak cukup tanpa keikhlasan dari diri kita masing-masing. Saya langsung mempertanyakan kebaikan saya. Saya ini ikhlas atau tidak sih sebenarnya? Cuma 2000 perak saja padahal tapi masih  mempertanyakan motif orang yang meminta bantuan.

Dasar manusia...masih aja selalu berpikiran negatif.

Saya berpikir lagi, ya ampun kenapa niat baik saya setengah-setengah. Di satu sisi saya mau sekali membantu dan di sisi lain saya takut. Menyesal rasanya kalau ternyata si ibu tadi memang pure hanya minta bantuan tanpa ada maksud jahat dan tadi sempat mengatakan ke ibu tersebut bahwa saya juga punya keperluan dan tidak membantu si ibu. Ingin rasanya mencabut semua ucapan saya terhadap si ibu.

Semua orang punya kebutuhan. Semua orang juga punya keperluan. Tapi masing-masing orang punya kemampuan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Mungkin mereka tidak punya uang 2000 perak, atau mungkin di luar sana memang masih banyak orang yang tidak semampu kita. Dan apa jadinya kalau saya tidak membantu si ibu dan dua orang anaknya? Terus apa jadinya kalau saya benar-benar memerlukan bantuan tapi tidak ada satu orang pun yang menolong saya. Sama sekali.

Ikhlas atau tidak adalah pilihan kita. Takut atau tidak juga pilihan kita. Semua hanya berawal dari niat.

June 9, 2013

Arisan vs kematian

Arisan dan kematian itu hampir sama. Sama-sama tunggu giliran siapa yang dipanggil duluan. Bedanya, kalau arisan maunya minta duluan bahkan berebutan biar dapat yang paling pertama, kalau mati gak ada yang mau minta duluan.

Mengerikan memang kalau bicara soal ini, tapi satu minggu kemarin ada hal yang membuat saya kembali berpikir tentang ini. Kematian pasti ada di setiap kehidupan manusia. Ada banyak hal yang kita takuti untuk mati bahkan beribu-ribu alasan untuk tidak mati dulu terkadang kita temui seperti ini:

Tuhan, jangan panggil saya dulu, saya belum kawin.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, saya belum punya anak.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, anak saya belum besar.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, anak saya belum nikah.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, saya belum dapat cucu.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, cucu saya belum besar.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, cucu saya belum nikah.
Tuhan, jangan panggil saya dulu, cucu saya belum punya anak.

Dan seterusnya...

Kita gak akan pernah tahu karena waktu bukan kita yang punya. Kematian dianalogikan seperti arisan. Pemainnya Tuhan dan para malaikat pencabut nyawa. Sudah ada nama-nama yang ditulis di kertas dan digulung lalu dimasukkan ke dalam wadah. Tinggal tunggu saatnya, Tuhan dan para malaikat akan mengambil salah satu kertas berisikan nama. Nama kita. Dan itu saatnya.

Kadang kita juga bingung kenapa harus kita duluan. Kenapa gak yang lain? Atau kenapa harus orang kita yang sayang dan cinta duluan? Kenapa gak kita yang duluan dipanggil? Semua terserah Tuhan.

Ada orang mati karena sudah berumur, ada yang karena sakit, ada yang karena kecelakaan, bahkan ada yang mati muda. Semuanya itu kita gak pernah tahu kapan saatnya dan alasan-alasan dibalik itu semua. Untuk yang mati muda misalnya, saya pernah baca begini:

Jadi jangan heran kalau ada orang yang baik tapi mati dalam umur yang relatif muda. Itu semua ada dalam rencana Tuhan, karena Tuhan tahu kalau orang baik ini dibiarkan hidup sampai lama suatu ketika orang ini akan terhilang. Jadi supaya jangan terhilang, orang-orang ini dipotong umurnya, cepat-cepat dipanggil Tuhan pulang.

November 4, 2012

Jenuh

Oh sudah lama ya ternyata gak memposting sesuatu.
Hampir amnesia punya blog.
Perasaan dan pikiran lagi gak tentu.
Mungkin karena jenuh.
Jenuh karena skripsi gak maju-maju.
Jenuh karena pikiran khawatir yang berlebihan duluan.
Jenuh...
Pinginnya cuma berpergian.
Entah kemana.
Yang penting pergi.
Ada yang bisa bawa saya pergi ke tempat yang bisa bikin perasaan dan pikiran gak jenuh lagi?
Kemana ya enaknya?
Pantai uda sering.
Maunya sih gunung.
Yak, sekarang malah mikirinnya lebih banyak ke gunung gunung gunung.
Ada gunung, sunrise, sunset, kabut, dingin, pasir.
Dimana lagi selain di Gunung Bromo.
Impian saya.
Someday.
Tapi..........
Selesain dulu nih jenuh sejenuh-jenuhnya.
Yang gak bisa ditawar lagi.
Paling gak sampai pertengahan tahun depan.
Sabar yah.
Semoga jenuh bakal selesai.
Dan mari kita naik Gunung Bromo!!!