August 31, 2010

Kenapa nyamuk diciptakan Tuhan?

Pernahkan kalian berpikir tentang bagaimana Tuhan menciptakan sesuatu? Atau kenapa yah Tuhan menciptakan ini itu ini itu dan sebagainya yang seringkali kita jumpai di dunia dan bahkan seringkali kita berpikir bahwa sesuatu yang diciptakan Tuhan tidak ada keuntungannya sama sekali. Malah terkadang terlihat merugikan di mata kita.

Di siang hari ada obrolan kecil sekilas tentang ciptaan Tuhan.

Kakak : Kenapa sih Tuhan menciptakan nyamuk? Padahal kan nyamuk bikin penyakit. Gigit orang, gatel-gatel, bentol-bentol, sampai bisa demam berdarah.

Saya : Nggg...........

Kakak : Kenapa ya Tuhan ciptain nyamuk yang gak menguntungkan sama sekali.

Saya : Errr...kalo gak ada nyamuk, gak bakal ada cicak.

Kakak : Hahahaha..

Logiskah jawaban saya? Pikiran simple. Kenapa nyamuk diciptakan? Kalau gak ada nyamuk, gak bakal ada cicak. Karena cicak makan nyamuk.

Saya : Kalo gak ada cicak, gak bakal ada ikan arwarna.

Karena ikan arwarna makan cicak.

Saya : Kalo gak ada ikan arwarna, gak bakal ada .....

Saya gak tahu lagi kelanjutan rantai makanannya. Yang makan ikan arwarna siapa ya?

Saya : Errr...kalo gak ada ikan arwarna, gak bakal ada penjual ikan arwarna.

Lho??

Sedangkan penjual ikan arwarna adalah manusia. Pertanyaannya bakal bersambung terus gak ada habisnya kalau dilanjutkan. Mungkin bakal ada pertanyaan, kenapa manusia diciptain? Karena kalau gak ada manusia gak bakal ada zombie. Tambah kacau. Gak usah dilanjutkan.

Sekarang yang perlu kita tahu, Tuhan menciptakan sesuatu tidak harus dengan adanya alasan. Bisa aja Tuhan menciptakan sesuatu yang paling aneh sedunia, paling jorok sedunia, paling jelek sedunia, paling menjijikkan sedunia, paling paling lainnya. Tapi pasti minimal ada 1 kebaikan yang tersembunyi dari kekurangan-kekurangan tersebut.

August 29, 2010

Defense mechanism

Yah sekarang inilah aku dengan 'defense mechanism' yang aku punya.

Aku mengetikkan kalimat itu sambil kembali ber-flashback dengan masa lalu yang sebenarnya terpaksa aku putar kembali.

***

"Soulmate? Friendship? Atau apalah itu. Apa yang harus aku tulis tentang topik itu? Aku bahkan gak mau kepikiran lagi tentang itu semua." Aku kesal bergumam dalam hati.

"Ini memang topik kita bulan ini. Soulmate dan friendship. Pikirkan idenya, deadlinenya 2 minggu lagi. Paling gak, kalau sudah dapat ide untuk alur cerpennya kasih tahu saya. Thanks, Feb" Mba Fitya tersenyum ke arahku.

Dan aku sekarang duduk berhadapan dengan laptopku. Tanpa berusaha untuk memulai pekerjaan yang deadlinenya dua minggu lagi.

Di rumah, aku mulai memaksa otakku untuk bekerja tapi tidak bisa sama sekali. Kamu tahu, bekerja dengan paksaan itu tidak membuat kita menjadi senang. Malah sebaliknya. Harusnya aku memang tidak perlu mengirimkan CV-ku pada majalah terkenal untuk menjadi penulis lepas cerpen majalah bulanan tersebut. Sedikit menyesal untuk sekarang ini.

***

Saat itu di penghujung SMA, kelas 3. Aku merasa tidak nyaman dengan suasana kelas baru. Dengan teman-teman baru yang tidak terlalu dekat dan tidak aku kenal sebelumnya. Dan dengan orang ini. Carla. Sebelumnya aku tidak mengenal dan bahkan tidak pernah berpapasan muka dengannya. Mungkin karena ia tidak terlalu populer di sekolah kami. Suasana kelas 3 membuatku menjadi malas untuk pergi sekolah. Ditambah lagi aku duduk dengan teman-teman yang asing dan tidak dekat denganku sebelumnya. Apalagi ada 1 anak perempuan yang iseng sekali dan kalau becanda tidak pakai 'otak'. Jelas bukan sekali tipe teman yang aku cari untuk menjadi 'sahabat'. Sebaiknya kamu perlu tahu dulu arti teman dan sahabat itu jelas berbeda.

Sudah berjalan sekitar 1 bulanan di kelas 3 dan sudah memulai untuk melakukan ulangan harian setiap harinya. Apalagi kami sebagai anak kelas 3 harus selalu 'terima kenyataan' untuk setiap harinya melatih otak dengan soal-soal setiap mata pelajaran untuk latihan try out dan ujian nasional. Kebetulan kami adalah golongan yang katanya anak-anak santai (baca : IPS yang artinya Ikatan Pelajar Santai). Yak, kami anak-anak Sosial yang santai. Jadi, yah santai saja kalau ada ulangan harian. Hari itu sudah dijadwalkan untuk ulangan harian Ekonometri. Hitungan ekonomi yang sampai sekarang aku tidak tahu alasannya kenapa harus selalu ada grafik naik turun yang membingungkan. Aku tidak bisa. Carla duduk di kursi belakangku. Kami 1 barisan. Ia memang anak yang pintar, tak perlu dipungkiri lagi. Soal yang dibagikan guru kami bertipe sama. Aku stuck pada soal terakhir. Sedangkan aku melirik ke belakang. Carla mengerjakannya dengan lancar.

"Sstt." Aku memanggil Carla dan ia menengok.

"Nomor terakhir gimana caranya?" Aku bertanya.

"Tunggu tunggu." Kata Carla.

Setelah menunggunya menyelesaikan pekerjaannya dulu sekitar 2 menitan. Aku kembali memanggil.

"Car, Car gimana nih? Gue ga bisa nih nomor terakhir bantuin dong!" Aku panik dan mendesak Carla untuk membantuku.

"Ya udah sini! Mana kertas lu?" Carla meminta.

"Hah?" Aku bingung.

"Kertas lu sini!!"

"Oh oke oke." Aku langsung cepat memberikan kertas ulanganku padanya.

Waktu tinggal sebentar lagi menunjukkan pulang sekolah.

"Ayo kumpulkan semuanya!!" Guru Ekonomi kami berteriak.

"Car, Car udah belum?"

Carla masih sibuk menuliskan jawaban di kertas ulanganku.

"Car, mana??!!"

"Ahhhhh.........!!!!!! Iya nih udah udah." Carla berteriak dan panik juga.

Aku langsung mengambil kertasku dan mengumpulkannya.

Mungkin itu awal kami dekat. Sepulangnya aku berterima kasih padanya karena telah membantuku.

Aku jadi mulai tertarik untuk mengenal Carla lebih dekat lagi. Aku mulai sering bercerita hal-hal kecil yang tidak seharusnya penting untuk diceritakan. Bahkan aku sendiri tidak paham kenapa bisa begitu, karena aku adalah tipe orang yang sulit untuk terbuka dengan orang lain. Tidak mudah untuk menceritakan segala sesuatunya yang aku alami, tapi aku mampu menceritakannya pada orang yang baru beberapa bulan aku kenal.

Aku mulai merasa Carla adalah benar-benar 'sahabat' ketika ia mengajarkan banyak hal tentang Tuhan. Mungkin karena keyakinan yang ia pegang. Atau idealisme yang ia punya untuk keyakinannya. Aku bukan seorang yang selau mengandalkan Tuhan. Aku tidak religius. Tapi dari Carla aku diajarkan banyak hal tentang bagaimana kita harus berpasrah pada Tuhan kita, tentang mencintai dan mengasihi sesama terutama orang-orang yang pernah menyakiti kita, tentang tujuan utama kita yaitu Sang Khalik. Tentu kita semua tahu, bahwa pada akhirnya kita akan kembali menghadap Sang Khalik. Ternyata aku salah, aku hanya memandang Carla sebelah mata, aku dibohongi oleh penampilan luarnya yang tidak pernah serius, selalu bercanda, selalu berbuat iseng. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang jauh lebih hebat dari sahabat-sahabatku sebelumnya. Carla ternyata memiliki banyak yang hal yang belum aku tahu dan orang lain tahu. Aku bangga menjadi sahabatnya. Aku berubah. Berubah untuk berusaha menjadi lebih baik dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhanku. Hingga saat itu aku mulai percaya Carla dan ia pun begitu. Aku berpikir, mungkin kekuatan pertahananku untuk selalu menjadi 'orang baik' adalah Carla. Yah, ia adalah 'defense mechanism' untukku.

Tapi aku ternyata salah. Aku selalu sedih dan marah mengingat tentang waktu yang terlalu cepat berlalu, aku selalu sedih dan marah kenapa aku dipertemukan oleh orang yang sudah pasti dan yakin aku anggap 'sahabat', aku selalu sedih dan marah kenapa harus begini akhirnya dan blablabla lainnya yang membuat aku depresi terus menerus karena 'kehilangan'.

Aku dan Carla beda kampus. Aku hanya seorang mahasiswa kupu-kupu (baca : kuliah pulang kuliah pulang) dikarenakan kampusku memang jauh. Dan Carla pun tahu itu. Carla, mahasiswa aktif. Aktif dalam 2 organisasi, aktif ukm olahraga, dan lainnya yang membuatku muak. Apa aku salah? Hei ada apa denganku? Bukankah 'sahabat' yang baik selalu mendukung sahabatnya? Mungkin aku salah. Dan aku terus berpikir aku memang 'sahabat yang salah' untuknya. Aku salah dipertemukan dan didekatkan dengan Carla. Aku terlalu mempercayainya. Perhatiannya hilang untukku dan ia hanya perhatian pada segala kesibukan yang ia punya. Ia berbeda. Bahkan seringkali aku memandangi profil picture yang selalu berubah-ubah di facebooknya sambil berpikir, "Wow dia memang HEBAT sekarang, banyak teman, banyak organisasi, banyak pengalaman, banyak hiburan yang didapat, banyak kesibukan, banyak kegiatan."

Aku seorang yang sia-sia sekarang, bahkan untuk sekedar menjelaskan bagaimana sakitnya diberlakukan, aku tidak sanggup. Dia tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan bagaimana sedihnya aku. Dia hanya peduli dengan bagaimana pentingnya organisasi, bagaimana pentingnya pelayanan, bagaimana cara untuk mendapatkan dana yang lebih untuk acara organisasinya, bagaimana serunya acara organisasi yang ia ikuti dan lainnya.

Tapi anehnya, kenapa aku masih peduli ketika dia hanya menceritakan kesenangan dia pribadi? Kenapa aku masih peduli ketika dia menceritakan bagaimana capainya dia dengan kesibukan yang dilakukan? Kenapa aku masih peduli dengan kesuksesannya yang dibanggakan dan pamerkan? Dan kenapa aku masih peduli bahkan ketika dia tidak peduli padaku? Apa maksudnya memperkenalkan Sang Khalik kepadaku kalau pada akhirnya dia dibutakan dengan dunia? Lebih parahnya lagi, aku mempertanyakan ini berulang-ulang, kenapa aku harus ber'sahabat' dengan dia? Aku memang jahat berpikiran seperti itu.

Sampai akhirnya aku benar-benar tidak pernah lagi berhubungan dengan Carla, aku menghapus contactnya dari handphoneku, aku block dia sebagai friend di account jejaring sosial milikku. Aku benar-benar ingin dia 'hilang' dariku. Mungkin sumpah serapah sudah tidak mempan lagi untuknya. Sulit untukku untuk berdiri sendiri tanpanya. Tanpa memiliki 'defense mechanism' dari seorang sahabat. Mungkin dia sedang bertanya-tanya alasan mengapa aku menjauh darinya.

And these are the words for your confusion to me.

One month ends, i managed to suffer greatly for not communicating with you.
I just wanted to say, thanks for the indifference that you gave.
Thank you for introducing God to me.
Because of Him, i remain strong in the indifference.
And i learned from the indifference that you gave, i have a defense mechanism.
And you surely know that.
I wish we can close again.
But you would agree that when we are shattered, we can't feel anything anymore as it used to when we are close to each other.
Now, that friendship sounds like friendshit.
And one more thing that i realized that i didn't mean anything to you.
May you always be happy with pride and the things you always be proud of in your life.
Because what i know, you're the only human who can live alone with the ability that you have.
I'm so happy with it all.

Mungkin aku terlalu dekat dan terlalu cepat percaya pada Carla. Aku teringat akan sebuah quote, 'Hubungan itu seperti telapak tangan. Jika telapak tangan dikepalkan kuat-kuat, tidak akan ada udara di dalamnya dan sulit untuk bebas bernafas, tetapi jika dibuka lebar-lebar akan terasa bebas dan ringan.'

Tanpa sadar aku selalu mendoakannya diam-diam. Mendoakan yang terbaik untuknya. Mungkin alasan kita diberikan kecocokkan berteman dengan seseorang selama bertahun-tahun namun akhirnya terpisah juga karena memang ada yang lebih baik dari kita untuknya.

Pada akhirnya aku sadar, aku harus 'move on'. Aku tidak bisa mengandalkan sahabat lamaku lagi. Aku harus pindah. Dan aku yakin sekarang, bukan Carla lah yang menjadi 'defense mechanism' untukku. Tapi pengalaman dari peristiwa 'kehilangan' inilah yang menjadi 'defense mechanism' untukku, karena ketika kita merasa disia-siakan sedemikian rupa, kita pasti akhirnya sadar untuk memiliki suatu 'defense mechanism'. Itu yang aku dapat dari salah seorang penulis favoritku. Yah, apakah kamu memilih 'defense mechanism' untuk siap kehilangan seorang sahabat atau soulmate-mu? Atau apakah kamu lupa akan satu hal? Bahwa bagaimanapun juga, tidak ada yang abadi di dunia ini.

Yah sekarang inilah aku dengan 'defense mechanism' yang aku punya.

***

"Feb, sudah jadi cerpennya?" Tanya Mba Fitya kepadaku.

Aku tersenyum, "Sudah, mba." Sambil memberikan beberapa lembar kertas yang aku pegang.

Mba Fitya membaca perlahan cerpen yang aku buat. Aku menunggu.

"Well, amazing! Kata-kata yang kamu gunakan beda dari yang lain. Terutama di bagian akhir pada pesan ceritanya. Hebat kamu."

"Aku gak hebat, mba. Biasa aja. Yang hebat justru si tokoh kedua dari cerpen itu."

"Lho kenapa?" Mba Fitya bingung.

"Karena dia, aku bisa menulis banyak hal dan terinspirasi." Aku berbicara mantap.

"Apa ini pengalaman pribadi kamu, Feb?"

Aku tersenyum dan langsung keluar dari ruangan Mba Fitya.

***

Terima kasih untuk hari pertama bertemu di kelas 3 SMA.
Terima kasih untuk bantuan ulangan Ekonometri.
Terima kasih untuk perhatian yang diberikan sewaktu dulu.
Terima kasih untuk cerita-cerita yang dibagikan.
Terima kasih untuk inspirasi yang aku dapat darimu.
Terima kasih untuk banyak hal yang kita lalui dulu sewaktu SMA.
Dan terima kasih karena telah memperkenalkan Tuhan kepadaku.

Mungkin terima kasihku yang terakhir adalah alasan mengapa aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu, teman. Tidak lagi 'sahabat'.

August 25, 2010

Questions [ ? ]

Saya masih bertanya-tanya kepada Tuhan tentang beberapa hal yang masih belum saya temukan jawabannya.

"Ternyata selalu benar dan benar setelah senang-senang dan tertawa pasti nantinya akan sedih dan saya selalu bingung alasannya kenapa?"

"Kenapa kita diberikan kecocokan berteman dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi akhirnya terpisah juga karena kesibukan satu sama lain?"

"Kenapa harus ada pertemuan kalau pada akhirnya ada perpisahan?"

August 17, 2010

Ngawur

Ga bisa tidur
Karna lu ngawur

'Gombal' di ulur-ulur
macem ubur-ubur

Maaf kalo ga mujur
Karna udah biasa brur

August 16, 2010

65th Indonesia

I.N.D.O.N.E.S.I.A 65 th

''Kenapa cinta INDONESIA?''

Share your answers guys!

August 15, 2010

Taat

Hidup itu harus taat
Bukan seharusnya jahat

Tapi saya tidak taat
Dan selalu berbuat jahat

Ada lagi tidak taat
Mungkin si dosen mamat

Kerjaannya tidak cepat
Bicaranya tentang pantat

Aku mau taat
Agar selalu selamat

Tuhan itu punya saat
Agar taat jadi alamat

August 14, 2010

r.i.n.d.u

Kala hatiku sedang rindu..
Pada siapa aku mengadu..

Pernah denger lagu dangdut ini?

Atau yang ini..

Kuterima suratmu dan kubaca dan aku mengerti..
Betapa merindunya diriku akan hadirnya dirimu..

Atau..

Lagu rindu ini kuciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta..
Walau hanya nada sederhana ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan..

Gak kehitung banyaknya lagu-lagu rindu yang ada hingga sampai sekarang ini.

r.i.n.d.u

Tadi saya baru dapat 1 pertanyaan dari seorang teman,

"Apa ciri-ciri orang kangen?"

Saya diam. Dan ternyata saya juga gak bisa definisikan rincinya ciri-ciri orang kangen. Ternyata saya belum tahu. Tapi setelah ditanyakan lagi pertanyan-pertanyaan yang bersangkutan seputar 'hal-hal' di dalamnya. Saya ber 'flashback' kembali.

Bahwa ternyata,

r.i.n.d.u

menurut saya adalah

'ketika saya berharap dan terus menunggu seseorang yang benar-benar saya r.i.n.d.u.k.a.n bagaimanapun, dimanapun dan kapanpun'

August 13, 2010

Bingung

Aku bingung
Sampai linglung
Bangun saat sahur
Karena tak bisa tidur

Aku bingung
Sampai linglung
Kenapa tak kunjung henti
Kamu yang tak ngerti-ngerti

Aku bingung
Sampai linglung
Kenapa kamu bodoh
Aku juga bodoh

Aku bingung
Sampai linglung
Cara apa yang ampuh
Agar kamu lumpuh

Aku bingung
Sampai linglung
Untuk bilang sama kamu
Aku sayang kamu

August 11, 2010

Try to respect other religions

Sebelum menulis ini, saya mengucapkan selamat berpuasa buat yang menjalankannya :)

Bicara soal agama, ras, etnis atau apapun itu yang seringkali jadi masalah. Apalagi baru-baru ini kita sering dengar tentang kasus suatu komunitas salah satu agama yang fanatik menentang agama lain untuk beribadah (baca : tidak perlu disebutkan lagi *jangan memberikan mereka panggung*). Seringkali saya heran dan bertanya-tanya sendiri, kenapa masalah soal hal itu terlalu dipusingkan, bukankah yang Maha Kuasa juga tidak memusingkan hal tersebut. Bukankah akan lebih enak lagi kalau setiap agama saling menghormati agama lainnya.

Saya sendiri adalah tipe orang yang selalu mencoba untuk 'respect' dengan agama lain, menghormati agama lain. Karena saya juga dilahirkan di dalam keluarga yang juga 'respect' pada perbedaan agama. Saya dilahirkan di keluarga yang sudah menjadi Khatolik. Mungkin dulu ayah saya seorang moeslim, tapi entah kenapa Ia menetapkan pilihan untuk menjadi Khatolik. Kenapa begitu? Buat saya, itu bukan jadi masalah, buat saya semua agama adalah sama. Tujuannya yaitu mengajarkan sesuatu yang baik agar kita melakukan hal yang baik pula selama hidup. Tuhan itu satu bukan? Menjadi Khatolik memang kebanggan buat saya, tapi saya lebih bangga lagi karena saya memiliki banyak perbedaan agama di dalam keluarga. Keluarga inti memang Khatolik, tapi keluarga lain (seperti saudara, om, tante, dll) ada yang beragama Islam. Mungkin bisa dibilang, saya terlahir di keluarga 'campuran'.

Terkadang memang aneh jika dilihat mata banyak orang. Saya mengikuti banyak acara perayaan agama. Saat natal, saya merayakannya. Saat lebaran atau idul fitri, saya ikut bergabung untuk meramaikan, Saat imlek, saya justru lebih semangat karena bisa mendapat angpao dari saudara lain yang masih memiliki keturunan agama Kong Hu Chu. Saya senang. Dapat kiriman souvenir natal banyak, dapat ketupat sayur, dapat angpao imlek. Tapi yang paling penting bukan materi itu semua. Yang paling penting adalah adanya kebersamaan di setiap perbedaan agama. Dan saya selalu bersyukur dengan adanya perbedaan agama di dalam keluarga saya.

Begitu 'respect'nya keluarga saya akan hal itu membuat saya menanamkan hal untuk saling menghormati agama lain. Saya sangat senang ketika malam natal berkumpul bersama keluarga inti bernyanyi lagu natal di gereja, saya juga senang menikmati ketupat sayur seadanya dan melihat saudara lain sungkem, saya juga senang melihat pemandangan serba merah dan saling berbagi angpao saat imlek. Luar biasa adanya perbedaan.

Kenapa harus ada kefanatikan antar agama? Kenapa harus menentang agama lain? Kenapa harus melarang agama lain melakukan haknya? Untuk menghormati dan saling menolong orang lain yang memang berbeda agama, ras, etnis, atau apapun itu apa perlu ada alasan? Justru sebaliknya, apa alasan orang lain untuk saling menghina, melakukan kekerasan, mengintimidasi, dan melakukan perpecahan? Saya masih mempertanyakannya sampai sekarang.

Semoga untuk seterusnya makin hilang perbuatan orang-orang yang terlalu mengutamakan kepentingannya sendiri untuk tidak saling menghormati orang lain. Karena tidak sadar, kita malah membuat negara kita menjadi lebih terbelakang dari negara lain. Hanya dengan masalah perbedaan itu saja yang buat Maha Kuasa bukan menjadi masalah. Cobalah untuk saling 'respect' terhadap agama lain.

August 9, 2010

Definisi menulis buat saya

-->Menulis buat saya mencurahkan apa saja yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan baik tentang diri sendiri atau tentang kehidupan yang ada di sekitar kita. Tidak harus formal, karena buat saya menulis tidak bedasarkan apa yang wajib atau harus, melainkan apa yang kita suka.

Simple. Saya suka menulis hal-hal yang tidak begitu penting tapi saya suka dan itu membuat saya senang karena apa yang kita rasakan bisa tertumpah di tulisan kita sendiri, apalagi jika tulisan itu dapat menginspirasi orang lain atau bisa disukai oleh orang lain juga. Menulis bisa dilakukan siapapun, dimanapun, dan kapanpun.

Berawal ketika saya dulu pernah membaca buku-buku yang menginspirasi saya untuk lebih banyak menulis. Penulis buku seperti Donny Dhirgantoro, Dewi Lestari, dan bahkan Raditya Dika yang membuat saya jadi terinspirasi dari mulai menulis tulisan sedikit berbau sastra, serius, hingga yang konyol-konyol tentang kehidupan pribadi saya sendiri di blog saya. Saya jatuh cinta pada dunia menulis.

Menulis membuat saya lega dan bisa menumpahkan semuanya, apa pendapat saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan dan semuanya yang ada di dalam pikiran dan hati saya. Terkadang sangat sulit untuk memulainya, harus mulai darimana tulisan ini atau bagaimana membuat pembaca terhibur atau terkesan dengan tulisan kita sendiri. Semula saya mengkhawatirkannya, tapi semakin sering menulis, saya semakin melupakan itu semua.

Yah, inilah dunia menulis. Idealis dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Saya tidak lagi mempedulikan bagaimana jika tulisan saya dikomentari yang jelek-jelek oleh orang lain, bagaimana jika tulisan saya tidak akan dibaca oleh orang lain, tidak ada ratingnya, sepi pembaca di blog saya. Lupakan itu semua, karena itu bukan lagi menjadi daya tarik untuk menulis, tapi ketertarikan dalam menulis ketika kita bisa merasakan ‘feel’ tulisan kita sendiri. Nikmatnya menulis selagi kita merasakan satu demi satu kata yang kita tuliskan hingga menjadi satu kalimat, satu paragraf hingga satu tulisan yang nanti ketika kita baca ulang kita akan berkata dalam hati, “Wow, gue bisa juga menulis”.

Itulah yang saya rasakan ketika menulis, Buat saya, menulis harus dengan ‘apa adanya’ bukan dengan ‘ada apanya’ kita harus menulis. Keduanya berbeda, ‘apa adanya’ bisa menghasilkan tulisan yang ‘real’ tulisan kita sendiri dan kita juga bisa merasakan maknanya lebih dalam, tapi kalau dengan ‘ada apa’nya terkesan lebih memaksa dengan yang kita tulis. So, anyone can write!

Tentang menerima dan membiarkan pergi

Saya bingung harus mulai dari mana. Karena inspirasi tulisan ini ketika saya membaca cerpen dalam suatu blog berjudul Garis Akhir yang ditulis oleh Kezia Gabriella Agusta. Mungkin juga karena saya lagi ingin 'serius' menulis atau mungkin juga karena saya sedang 'menghadapi' sendiri kenyataannya.

Tentang menerima dan membiarkan pergi.

Mengutip dari tulisan Garis Akhir, "Somehow, I forget one thing. When you are ready to love someone, you must ready to be hurt by the one you loved. In short, broke up. Or sweeter, we can say, letting go." Saya semakin sadar bahwa ga ada yang bisa berlangsung selamanya di dunia ini.

Saat kita memulai suatu hubungan, pertemanan, pacaran, HTS-an, TTM-an atau singkatan labil lainnya yang marak dibicarakan umumnya. Saya lupa, bahwa dari itu semua, suatu hari semuanya harus punya akhir. Sama halnya ketika Kezia menuliskannya, di saat kita memulai, kita juga harus mengakhiri. Kapanpun, dimanapun...siapapun.

Terkadang saya mempertanyakan kenapa dalam hal menerima, harus kuat juga untuk menerima dan menahan 'rasa sakit'. Kenapa harus ada 'sakit'? Pernahkah kalian berpikir satu-satunya cara untuk tidak menerima sakit hati adalah untuk tidak menerima seseorang dalam hidup kita? Atau lebih tepatnya mungkin untuk tidak terlanjur jatuh cinta atau sayang dengan seseorang.

Tapi konyol. Justru semakin kita pungkir, kita tidak benar-benar jatuh cinta dan sayang dengan seseorang, maka disitulah kita semakin tidak kuat untuk berkata tidak, bahwa sebenarnya kita memang benar-benar terlanjur sayang bahkan cinta.

Kenapa rasanya sakit untuk melihat seseorang itu pergi? Dan rasa sakit juga ada ketika dia ada. Di saat dia gak ada, saya mencari-cari. Di saat dia ada, saya benci untuk menyadari bahwa saya masih peduli akan keadaan dia. Saya jadi teringat lagu Hello, goodbye - The Beatles. Ketika saya mati-matian pergi dari dia dengan melawan kenyataan bahwa saya peduli, dia datang. Dan ketika saya kembali lagi untuk belajar lebih menerima, dia pergi. Kenapa saya masih peduli?

Kenapa saya masih peduli ketika dia hanya menceritakan kesenangan dia pribadi ? Kenapa saya masih peduli ketika dia menceritakan bagaimana capainya dia dengan kesibukan yang dilakukan? Kenapa saya masih peduli dengan kesuksesannya yang dibanggakan dan pamerkan? Dan kenapa saya masih peduli bahkan ketika dia tidak peduli pada saya? Lebih parahnya lagi, saya mempertanyakan ini berulang-ulang, kenapa saya harus terlanjur sayang sama dia?

Hasilnya nihil, saya gak menemukan jawabannya. Mungkin rasa sayang saya ini tidak akan pernah ada alasannya. Sama seperti kita harus menerima orang lain. Tidak perlu ada banyak alasan untuk dikatakan ketika kita mau menerima seseorang.

Ketika kita sudah mulai menerimanya kembali kita juga harus bisa membiarkannya pergi lagi sewaktu-waktu.

"Letting go doesn't mean giving up, but rather accepting that there are things that cannot be."